“Dunia intelektual adalah dunia
yang dinamis. Ia tidak statis. Dunia intelektual tidak hanya bergerak dalam
konsep pembelajaran di ruang kelas, melainkan terus berubah mengikuti
jejak-jejak peradaban yang terus tumbuh dan berubah. Di saat yang sama ruang lingkup
intelektual tidak bisa dinormatifkan atau didogmatisasi seperti agama”. Itulah
sepenggal kutipan menarik yang dinarasikan oleh Clara Sahasti Astuti yang juga
selaku ketua panitia Seminar dan Penghargaan Saint Thomas Aquinas Awards 2016
bertajuk, ‘’komitmen intelektual menuntut semangat keterlibatan kaum muda
katolik Indonesia”. Berlangsung pada Jumat 29 April 2016 di aula pascasarjana
Unpar Bandung.
Kegiatan tersebut di selenggarakan
atas kerjasama antara KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) se-Bandung raya dan
PMKRI cabang Bandung, dalam rangka refleksi memperingati HARDIKNAS 2016 yang
jatuh pada 2 Mei 2016. Clara melanjutkan narasinya dalam sapaan pembuka seminar
dengan bersanding ke rumusan paus Fransiskus yang berbunyi, “orang muda bukan
hanya masa depan gereja, melainkan juga masa kini gereja”. Bahwa hidup
keagamaan serta doktrinasi intelektual harus ditantang dalam arus kehidupan
warga bangsa. Kecerdasan teori harus diimbangi dengan kecerdasan nurani. Nah,
kecerdasan nurani didapatkan hanya ketika kita berada bersama warga dalam
kenyataan hidup sehari-hari. Hanya dengan keberanian untuk secara langsung
menjelma dalam masyarakat itulah, nurani kita dirangsang untuk memupuk
kepedulian dan rasa solidaritas sosial kebangsaan, tutupnya di sambut tepuk
tangan dari para hadirin.
Hadir dalam kesempatan yang sama
Prof Dr Didi Turmudzi Msi yang juga sebagai ketua umum Paguyuban Pasundan untuk
membuka seminar tersebut. Beliau dalam sambutannya, menekankan betapa
pentingnya wujud nyata dari komitmen intelektual. Sebagai tokoh masyarakat Jawa Barat saya
merasa terhormat ikut hadir dalam kesempatan ini. Kini adalah era persaingan.
Globalisasi merubah semua elemen kehidupan kita. Dalam konteks itu kita tidak
boleh gagap menghadapi fenomena ini. Hal ini diwujudkan hanya dengan
keterlibatan dalam proses belajar kita. Dengan terlibat kita akhirnya,
membiasakan diri untuk menghadapi persoalan hidup dari seluk beluk pranata
sosial yang terjadi. Sekali lagi atas nama masyarakat tatar Sunda saya
menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada kaum muda katolik khususnya
PMKRI cabang Bandung dan KMK serta umat Keuskupan Bandung yang telah menanamkan
nilai dan karya-karyanya bagi masyarakat Sunda, sekali lagi hatur nuhun.
Pakar filsafat dari universitas
Katolik Parahyangan Bandung, Prof Dr Ignatius Bambang Sugiharto sebagai
pembicara pertama memberikan analisis kritisnya dan mengabstraksi peserta
seminar dengan tema, “Problematik Intelektual Indonesia kini”. Beliau
menegaskan ada empat hal mengenai problematik dunia intelektual kita. Pertama,
adalah kesempitan wawasan. Hal ini beranjak dari minat baca yang kurang. Kedua
adalah kaum intelektual Indonesia cenderung pragmatis karena berjuang hanya
untuk menempati posisi tertentu. Ketiga kaum intelektual Indonesia dalam
prosesnya hanya mereproduksi bukan produksi. Karena mental pragmatis maka arahnya
selalu pada daur ulang karya intelektual orang lain. Yang terakhir adalah
rendahnya kultur diskursif. Ini terletak pada gagasan refleksifitas atas
situasi. Dan pada akhirnya kita kurang dalam hal refleksi filsafat. Paling
tidak berakibat pada dua masalah utama yaitu pudarnya semangat filosofis dimana,
kurangnya pemikiran secara mendasar dan logis, minimnya renungan terhadap kompleksitas dan ambiguitas pada
pokok persoalan hidup.
Romo Franz Magnis Suseno yang
berbicara mengenai, ‘’intelektual populis dan jiwa kekatolikan”, menekankan
pada spiritualitas keterlibatan. Lanjutnya, orang muda harus segera keluar dari
kerangka pragmatisme. Kaum muda katolik harus membawa gereja jadi sahabat dan
komponen damai bagi siapapun. Keberpihakan diperjelas dengan semangat untuk
menjadi saksi injil dalam kenyataan hidup bersama. Secara sederhana beliau
memberi harapan untuk segeralah bertolak dari altar ke pasar.
Bersanding ke pemikiran Dr Pius
Sugeng sebagai pembicara ketiga dengan tema,’’upaya lembaga pendidikan
menawarkan nilai”, menyatakan pendidikan tidak boleh menyerah dengan pengaruh
globalisasi dan hanya menghasilkan ‘skrup kapitalis’. Perlu menyiapkan ruang
dan waktu untuk mengembangkan imajinasi-imajinasi ideal tentang lingkungan
(lokal-global). Memotivasi kaum muda untuk terlibat dan keberpihakan pada transformasi
nilai. Lanjut Pius Sugeng lembaga pendidikan (universitas) harus menjadi
komunitas berpikir yang bebas untuk mengekplorasi kesejatian dirinya. Dengan
itu, maka generasi yang dihasilkan adalah dari ketergantungan menjadi
kemandirian. Dari menerima menjadi mencari. Dari terikat menjadi bebas untuk
berkreasi.
Kita juga perlu merekayasa secara
internal. Bahwa universitas sebagai lembaga utama yang menaungi serta tempat
belajarnya kaum intelektual harus di tempatkan sebagai jantung masyarakat. Dan
ini ada melalui karya nyata dari apa yang telah di pelajarinya. Ada
keseimbangan antara dimensi akademik dan dimensi nilai. Terus menggali dan
meformulasikan spirit yang mendasar. Perlu juga menyediakan ruang untuk
mengekspresikan pemikiran-pemikiran alternatif dan inovatif.
Prof Dr Adrianus Meliala memberi
inspirasi dalam kesempatan yang sama mengenai refleksi pengalaman hidupnya.
Secara spesifik beliau berbicara dengan tema,’’Inspirasi menjadi generasi yang
terlibat”. Bahwa kini dunia sangat terbuka dan komppetitif. Maka perlu
menyiapkan diri dari masih muda dengan keunggulan dan kecermerlangan sebagai
penemuan jati diri untuk bergerak ke dunia yang lebih luas. Semua itu ada
karena hidup dalam kebersamaan. Hal tercapai apabila ada keberanian untuk ‘bertolak
ketempat yang lebih dalam’.
Kemudian pada penutupnya
sang moderator, Marz Wera Mofferz yang juga ketua lembaga studi Saint Thomas
Aquinas dengan jeli merumuskan bahwa, “tidak ada jalan pintas dalam hidup ini.
Hidup itu terus bertumbuh, maka kita harus melewati proses demi proses
pengalaman untuk belajar. Hanya melalui keterlibatanlah kultur diskursif kita bangun, disaat yang sama kita memupuk semangat filosofis untuk berpikir secara mendasar mengenai pentingnya kematangan identitas lewat ruang dan waktu, untuk berimajinasi dalam membangun tatanan nilai dan pranata sosial yang kita narasikan. Secara sederhana, ‘’sejak muda biasakanlah yang benar, bukan membenarkan yang biasa’’ , yang di sambut dengan sambutan meriah dari para peserta”.
Oleh : Marz Wera
Telah Terbit di Majalah Hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar