Kamis, 04 Agustus 2016

Komitmen Intelektual Menuntut Semangat Keterlibatan

“Dunia intelektual adalah dunia yang dinamis. Ia tidak statis. Dunia intelektual tidak hanya bergerak dalam konsep pembelajaran di ruang kelas, melainkan terus berubah mengikuti jejak-jejak peradaban yang terus tumbuh dan berubah. Di saat yang sama ruang lingkup intelektual tidak bisa dinormatifkan atau didogmatisasi seperti agama”. Itulah sepenggal kutipan menarik yang dinarasikan oleh Clara Sahasti Astuti yang juga selaku ketua panitia Seminar dan Penghargaan Saint Thomas Aquinas Awards 2016 bertajuk, ‘’komitmen intelektual menuntut semangat keterlibatan kaum muda katolik Indonesia”. Berlangsung pada Jumat 29 April 2016 di aula pascasarjana Unpar Bandung.


Kegiatan tersebut di selenggarakan atas kerjasama antara KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) se-Bandung raya dan PMKRI cabang Bandung, dalam rangka refleksi memperingati HARDIKNAS 2016 yang jatuh pada 2 Mei 2016. Clara melanjutkan narasinya dalam sapaan pembuka seminar dengan bersanding ke rumusan paus Fransiskus yang berbunyi, “orang muda bukan hanya masa depan gereja, melainkan juga masa kini gereja”. Bahwa hidup keagamaan serta doktrinasi intelektual harus ditantang dalam arus kehidupan warga bangsa. Kecerdasan teori harus diimbangi dengan kecerdasan nurani. Nah, kecerdasan nurani didapatkan hanya ketika kita berada bersama warga dalam kenyataan hidup sehari-hari. Hanya dengan keberanian untuk secara langsung menjelma dalam masyarakat itulah, nurani kita dirangsang untuk memupuk kepedulian dan rasa solidaritas sosial kebangsaan, tutupnya di sambut tepuk tangan dari para hadirin.

Hadir dalam kesempatan yang sama Prof Dr Didi Turmudzi Msi yang juga sebagai ketua umum Paguyuban Pasundan untuk membuka seminar tersebut. Beliau dalam sambutannya, menekankan betapa pentingnya wujud nyata dari komitmen intelektual.  Sebagai tokoh masyarakat Jawa Barat saya merasa terhormat ikut hadir dalam kesempatan ini. Kini adalah era persaingan. Globalisasi merubah semua elemen kehidupan kita. Dalam konteks itu kita tidak boleh gagap menghadapi fenomena ini. Hal ini diwujudkan hanya dengan keterlibatan dalam proses belajar kita. Dengan terlibat kita akhirnya, membiasakan diri untuk menghadapi persoalan hidup dari seluk beluk pranata sosial yang terjadi. Sekali lagi atas nama masyarakat tatar Sunda saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada kaum muda katolik khususnya PMKRI cabang Bandung dan KMK serta umat Keuskupan Bandung yang telah menanamkan nilai dan karya-karyanya bagi masyarakat Sunda, sekali lagi hatur nuhun.

Pakar filsafat dari universitas Katolik Parahyangan Bandung, Prof Dr Ignatius Bambang Sugiharto sebagai pembicara pertama memberikan analisis kritisnya dan mengabstraksi peserta seminar dengan tema, “Problematik Intelektual Indonesia kini”. Beliau menegaskan ada empat hal mengenai problematik dunia intelektual kita. Pertama, adalah kesempitan wawasan. Hal ini beranjak dari minat baca yang kurang. Kedua adalah kaum intelektual Indonesia cenderung pragmatis karena berjuang hanya untuk menempati posisi tertentu. Ketiga kaum intelektual Indonesia dalam prosesnya hanya mereproduksi bukan produksi. Karena mental pragmatis maka arahnya selalu pada daur ulang karya intelektual orang lain. Yang terakhir adalah rendahnya kultur diskursif. Ini terletak pada gagasan refleksifitas atas situasi. Dan pada akhirnya kita kurang dalam hal refleksi filsafat. Paling tidak berakibat pada dua masalah utama yaitu pudarnya semangat filosofis dimana, kurangnya pemikiran secara mendasar dan logis, minimnya renungan  terhadap kompleksitas dan ambiguitas pada pokok persoalan hidup.

Romo Franz Magnis Suseno yang berbicara mengenai, ‘’intelektual populis dan jiwa kekatolikan”, menekankan pada spiritualitas keterlibatan. Lanjutnya, orang muda harus segera keluar dari kerangka pragmatisme. Kaum muda katolik harus membawa gereja jadi sahabat dan komponen damai bagi siapapun. Keberpihakan diperjelas dengan semangat untuk menjadi saksi injil dalam kenyataan hidup bersama. Secara sederhana beliau memberi harapan untuk segeralah bertolak dari altar ke pasar.

Bersanding ke pemikiran Dr Pius Sugeng sebagai pembicara ketiga dengan tema,’’upaya lembaga pendidikan menawarkan nilai”, menyatakan pendidikan tidak boleh menyerah dengan pengaruh globalisasi dan hanya menghasilkan ‘skrup kapitalis’. Perlu menyiapkan ruang dan waktu untuk mengembangkan imajinasi-imajinasi ideal tentang lingkungan (lokal-global). Memotivasi kaum muda untuk terlibat dan keberpihakan pada transformasi nilai. Lanjut Pius Sugeng lembaga pendidikan (universitas) harus menjadi komunitas berpikir yang bebas untuk mengekplorasi kesejatian dirinya. Dengan itu, maka generasi yang dihasilkan adalah dari ketergantungan menjadi kemandirian. Dari menerima menjadi mencari. Dari terikat menjadi bebas untuk berkreasi.

Kita juga perlu merekayasa secara internal. Bahwa universitas sebagai lembaga utama yang menaungi serta tempat belajarnya kaum intelektual harus di tempatkan sebagai jantung masyarakat. Dan ini ada melalui karya nyata dari apa yang telah di pelajarinya. Ada keseimbangan antara dimensi akademik dan dimensi nilai. Terus menggali dan meformulasikan spirit yang mendasar. Perlu juga menyediakan ruang untuk mengekspresikan pemikiran-pemikiran alternatif dan inovatif.

Prof Dr Adrianus Meliala memberi inspirasi dalam kesempatan yang sama mengenai refleksi pengalaman hidupnya. Secara spesifik beliau berbicara dengan tema,’’Inspirasi menjadi generasi yang terlibat”. Bahwa kini dunia sangat terbuka dan komppetitif. Maka perlu menyiapkan diri dari masih muda dengan keunggulan dan kecermerlangan sebagai penemuan jati diri untuk bergerak ke dunia yang lebih luas. Semua itu ada karena hidup dalam kebersamaan. Hal tercapai apabila ada keberanian untuk ‘bertolak ketempat yang lebih dalam’.
Kemudian pada penutupnya sang moderator, Marz Wera Mofferz yang juga ketua lembaga studi Saint Thomas Aquinas dengan jeli merumuskan bahwa, “tidak ada jalan pintas dalam hidup ini. Hidup itu terus bertumbuh, maka kita harus melewati proses demi proses pengalaman untuk belajar. 

Hanya melalui keterlibatanlah kultur diskursif kita bangun, disaat yang sama kita memupuk semangat filosofis untuk berpikir secara mendasar mengenai pentingnya kematangan identitas lewat ruang dan waktu, untuk berimajinasi dalam membangun tatanan nilai dan pranata sosial yang kita narasikan. Secara sederhana, ‘’sejak muda biasakanlah yang benar, bukan membenarkan yang biasa’’ , yang di sambut dengan sambutan meriah dari para peserta”.

Oleh : Marz Wera
Telah Terbit di Majalah Hidup.

Tidak ada komentar: