Akhir-akhir
ini, di Indonesia agama sering dikaitkan dengan suatu tindakan kekerasan.
Situasi ini sungguh memprihatinkan kehidupan warga bangsa. Namun sinyalemen
tersebut di sanggah melalui pernyataan apologetis (tindakan membela diri) bahwa
agama sungguh hadir untuk mendamaikan, merukunkan dan mengajarkan segala kebaikan.
Situasi ini semakin rumit dan pelik, karena agama cenderung di politisasi
sebagai jalan pintas menuju puncak kekuasaan.
Fenomena
terorisme, agama sebagai pembenaran landasan ideologis dan
teologis. Pada satu titik tindakan ini akhirnya menjebak orang untuk masuk
dalam tataran keangkuhan teologis. Bahwa segala kebenaran dari penafsiran
mengenai teologi keagamaan adalah milik kelompoknya. Keangkuhan teologi membuka
ruang berpikir yang sempit, dan memungkinkan masuk dalam ruang sesat kolektif.
Pada konsep berpikir inilah muncul ketaatan buta dalam hidup beragama, karena
iman yang dipaksakan. Mereka membenarkan kesesatan kebenarannya dengan dalil
agama sebagai rujukan untuk menteror yang lain.
Laboratorium
kearifan
Pada bab I
buku ini, kita sejenak membuka ruang berpikir dan merefleksikan di masa
sekarang tentang sejarah masuknya agama-agama (Islam) ke Indonesia yang awalnya
masih dengan sebutan Nusantara. Bahwa kehadiran agama di
Indonesia tidak lepas dari entitas, identitas budaya nusantara. Agama (Islam) melebur melalui lokalitas wilayah dan budaya yang
berkembang dalam kelompok masyarakatnya.
Teks Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan mengungkapkan kejujuran
sejarah perjalanan keislaman ke nusantara. Membaca bab ini kita akan semakin dicerahkan
akan hubungan antara agama dan budaya. Wujud keagamaan yang melebur
dengan cita rasa dan lokalitas nusantara. Islam
menuntut lahirnya komunitas terbuka yang secara konkret berpegang pada
nilai-nilai kemanusiaan yang sifatnya universal, tetapi nilai-nilai lokal yang
sejalan dapat di integrasikan untuk memperkaya pelaksanaan agama ini dalam
kehidupan kolektif (hal 82). Sejarah
adalah pedoman bertindak dalam batas ruang dan waktu.
hal tersebut
membuktikan bahwa dasar keislaman selalu berpedoman pada nilai kemanusiaan atas
persamaan dan kesetaraan. Teks ini menegaskan perwujudan persamaan dan
kesetaraan, nilai kemanusiaan yang luhur, adil dan beradab, serta tatanan
social yang memberikan rasa hormat. Karena sejarah adalah
laboratorium kearifan.
Demokrasi
dalam praktek
Demokrasi
selalu identik dengan kebebasan mengungkapkan pendapat. Di Indonesia sendiri sistem
ini terus bergulir namun belum menjadi sarana utama dalam penataan publik. Hal
yang sama terjadi pula dalam hidup keagamaan. Seharusnya negara yang paham
demokrasi tidak perlu lagi memperdebatkan perbedaan mengenai identitas (agama).
Karena demokrasi mengusung kesamaan dan kesetaraan, seperti halnya agama.
Sang penulis
mengungkapkan kritiknya terhadap praktek-praktek hidup berdemokrasi bangsa ini.
Pada bab II seorang Ahmad Syafii Maarif memberi pemahaman akan keselarasan
antara gagasan keislaman dan gagasan demokrasi. Tataran praktek yang menjadi
ketegasan dan tujuan utama dari kritiknya. Demokrasi dalam konsep pemikiran
Islam adalah memberikan ruang kepada setiap pribadi untuk berpartisipasi dalam
setiap peristiwa lingkungannya masing-masing tanpa rasa takut. Hanya demokrasi
yang memberikan kesempatan kepada sesama untuk berinteraksi dengan budaya,
agama, dan etnisitas. Keislaman selalu menuntut universalitas. Demokrasi dan agama memulihkan
martabat kemanusiaan.
Pancasila
sebagai nada dasar
Dalam buku
ini, sang penulis mengungkapkan empatinya akan nilai-nilai kemanusiaan
yang perlahan-lahan terurai. Salah satunya adalah dunia pendidikan. Pendidikan
harus berorientasi pada moralitas diri. Beliau menitip pesan yang sangat kaya,
karena semua berdasarkan pengalamannya menelusuri peristiwa bangsa ini.
Menurutnya pancasila harus di tempatkan di atas semua golongan.
Ini
merupakan sebuah permenungan mendalam dari seorang tokoh, untuk menggali nilai
luhur manusia. Hidup berbangsa dan bernegara merupakan pertarungan sebuah
identitas. Namun diatas pertarungan itu ada kesetaraan dan kesamaan. Sang
penulis mencoba melihat problem kemanusiaan, kemudian menggalinya lewat
pengalaman pribadi. Bahwa nilai kemanusiaan menjadi dasar, etnisitas
sebagai pedoman berbangsa, dialog sebagai wujudnyata dari imannya.
Hidup
beragama tidak sepatutnya terbelenggu dalam gedung atau wilayah legalitasnya,
tetapi bagaimana orang berkontemplasi dengan lingkungan dan komunitas lainnya.
Penghayatan agama yang benar adalah semangat keterlibatan dalam setiap
peristiwa hidup sesama. Bagaimana orang mendefinisikan diri dalam tataran
ajaran agama lain. Bagaimana teologi dari suatu agama mengidentifikasikan
dirinya di tengah agama lain, yang juga punya nilai yang sama. Sikap keagamaan
kita ikut menentukan pandangan kita terhadap agama lain.
Kritikan sebagai
refleksi untuk buku ini adalah beliau tidak menceritakan secara implisit bahwa
beliau dulunya pernah berjuang untuk negara Islam. Sederhananya adalah
fundamentalisme yang insaf. Namun kini semua sudah selesai dengan dirinya,
karena pengalaman hidupnya melalui dialog keagamaan, adanya ruang perjumpaan
antar agama, sebagai wujud realitas iman keagamaan yang nyata. Beliau sosok
yang menyejukkan bagi sahabat lintas iman. Sosoknya kini sangat dalam dengan
pengalaman spiritualitasnya.
Buku ini menampakkan
nilai keislaman yang sebenarnya. Bersaudara dalam perbedaan dan berbeda dalam persaudaraan
(hal 289). Personalisasi keislaman nampak dalam sosoknya,
karena semua berawal dari pengalaman iman keagamaan yang nyata. Musik akan
menghasilkan bunyi yang indah karena berasal dari kesatuan not-not yang
berbeda. Keindonesiaan juga punya nada dasar kesatuan. Nada dasar itu adalah
Pancasila.
Judul Buku : Islam dalam Keindonesiaan dan Kemanusiaan
Penulis : Ahmad Syafii Maarif
Penerbit : Mizan
ISBN : 978-979-433-874-2
Tahun : 2015
Tebal : xii+405
oleh : Marz Wera
Telah terbit di Kompas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar