Kamis, 04 Agustus 2016

Ahmad Syafii Maarif : Hakekat Kemanusiaan Adalah Bersahabat

Akhir-akhir ini, di Indonesia agama sering dikaitkan dengan suatu tindakan kekerasan. Situasi ini sungguh memprihatinkan kehidupan warga bangsa. Namun sinyalemen tersebut di sanggah melalui pernyataan apologetis (tindakan membela diri) bahwa agama sungguh hadir untuk mendamaikan, merukunkan dan mengajarkan segala kebaikan. Situasi ini semakin rumit dan pelik, karena agama cenderung di politisasi sebagai jalan pintas menuju puncak kekuasaan.

Fenomena terorisme, agama sebagai pembenaran landasan ideologis dan teologis. Pada satu titik tindakan ini akhirnya menjebak orang untuk masuk dalam tataran keangkuhan teologis. Bahwa segala kebenaran dari penafsiran mengenai teologi keagamaan adalah milik kelompoknya. Keangkuhan teologi membuka ruang berpikir yang sempit, dan memungkinkan masuk dalam ruang sesat kolektif. Pada konsep berpikir inilah muncul ketaatan buta dalam hidup beragama, karena iman yang dipaksakan. Mereka membenarkan kesesatan kebenarannya dengan dalil agama sebagai rujukan untuk menteror yang lain.

Laboratorium kearifan
Pada bab I buku ini, kita sejenak membuka ruang berpikir dan merefleksikan di masa sekarang tentang sejarah masuknya agama-agama (Islam) ke Indonesia yang awalnya masih dengan sebutan Nusantara. Bahwa kehadiran agama di Indonesia tidak lepas dari entitas, identitas budaya nusantara. Agama (Islam) melebur melalui lokalitas wilayah dan budaya yang berkembang dalam kelompok masyarakatnya.
Teks Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan mengungkapkan kejujuran sejarah perjalanan keislaman ke nusantara. Membaca bab ini kita akan semakin dicerahkan akan hubungan antara agama dan budaya. Wujud keagamaan yang melebur dengan cita rasa dan lokalitas nusantara. Islam menuntut lahirnya komunitas terbuka yang secara konkret berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan yang sifatnya universal, tetapi nilai-nilai lokal yang sejalan dapat di integrasikan untuk memperkaya pelaksanaan agama ini dalam kehidupan kolektif (hal 82). Sejarah adalah pedoman bertindak dalam batas ruang dan waktu.
hal tersebut membuktikan bahwa dasar keislaman selalu berpedoman pada nilai kemanusiaan atas persamaan dan kesetaraan. Teks ini menegaskan perwujudan persamaan dan kesetaraan, nilai kemanusiaan yang luhur, adil dan beradab, serta tatanan social yang memberikan rasa hormat. Karena sejarah adalah laboratorium kearifan.

Demokrasi dalam praktek
Demokrasi selalu identik dengan kebebasan mengungkapkan pendapat. Di Indonesia sendiri sistem ini terus bergulir namun belum menjadi sarana utama dalam penataan publik. Hal yang sama terjadi pula dalam hidup keagamaan. Seharusnya negara yang paham demokrasi tidak perlu lagi memperdebatkan perbedaan mengenai identitas (agama). Karena demokrasi mengusung kesamaan dan kesetaraan, seperti halnya agama.
Sang penulis mengungkapkan kritiknya terhadap praktek-praktek hidup berdemokrasi bangsa ini. Pada bab II seorang Ahmad Syafii Maarif memberi pemahaman akan keselarasan antara gagasan keislaman dan gagasan demokrasi. Tataran praktek yang menjadi ketegasan dan tujuan utama dari kritiknya. Demokrasi dalam konsep pemikiran Islam adalah memberikan ruang kepada setiap pribadi untuk berpartisipasi dalam setiap peristiwa lingkungannya masing-masing tanpa rasa takut. Hanya demokrasi yang memberikan kesempatan kepada sesama untuk berinteraksi dengan budaya, agama, dan etnisitas. Keislaman selalu menuntut universalitas. Demokrasi  dan agama memulihkan martabat kemanusiaan.

Pancasila sebagai nada dasar
Dalam buku ini, sang penulis mengungkapkan empatinya akan nilai-nilai kemanusiaan yang perlahan-lahan terurai. Salah satunya adalah dunia pendidikan. Pendidikan harus berorientasi pada moralitas diri. Beliau menitip pesan yang sangat kaya, karena semua berdasarkan pengalamannya menelusuri peristiwa bangsa ini. Menurutnya pancasila harus di tempatkan di atas semua golongan.
Ini merupakan sebuah permenungan mendalam dari seorang tokoh, untuk menggali nilai luhur manusia. Hidup berbangsa dan bernegara merupakan pertarungan sebuah identitas. Namun diatas pertarungan itu ada kesetaraan dan kesamaan. Sang penulis mencoba melihat problem kemanusiaan, kemudian menggalinya lewat pengalaman pribadi. Bahwa  nilai kemanusiaan menjadi dasar, etnisitas sebagai pedoman berbangsa, dialog sebagai wujudnyata dari imannya.
Hidup beragama tidak sepatutnya terbelenggu dalam gedung atau wilayah legalitasnya, tetapi bagaimana orang berkontemplasi dengan lingkungan dan komunitas lainnya. Penghayatan agama yang benar adalah semangat keterlibatan dalam setiap peristiwa hidup sesama. Bagaimana orang mendefinisikan diri dalam tataran ajaran agama lain. Bagaimana teologi dari suatu agama mengidentifikasikan dirinya di tengah agama lain, yang juga punya nilai yang sama. Sikap keagamaan kita ikut menentukan pandangan kita terhadap agama lain.
Kritikan sebagai refleksi untuk buku ini adalah beliau tidak menceritakan secara implisit bahwa beliau dulunya pernah berjuang untuk negara Islam. Sederhananya adalah fundamentalisme yang insaf. Namun kini semua sudah selesai dengan dirinya, karena pengalaman hidupnya melalui dialog keagamaan, adanya ruang perjumpaan antar agama, sebagai wujud realitas iman keagamaan yang nyata. Beliau sosok yang menyejukkan bagi sahabat lintas iman. Sosoknya kini sangat dalam dengan pengalaman spiritualitasnya.
Buku ini menampakkan nilai keislaman yang sebenarnya. Bersaudara dalam perbedaan dan berbeda dalam persaudaraan (hal 289). Personalisasi keislaman nampak dalam sosoknya, karena semua berawal dari pengalaman iman keagamaan yang nyata. Musik akan menghasilkan bunyi yang indah karena berasal dari kesatuan not-not yang berbeda. Keindonesiaan juga punya nada dasar kesatuan. Nada dasar itu adalah Pancasila. 

Judul Buku : Islam dalam Keindonesiaan dan Kemanusiaan
Penulis : Ahmad Syafii Maarif
Penerbit : Mizan
ISBN : 978-979-433-874-2
Tahun : 2015

Tebal : xii+405








oleh : Marz Wera

Telah terbit di Kompas 

Tidak ada komentar: