Kamis, 04 Agustus 2016

Menalar Terorisme

Menalar Terorisme

Akhir-akhir ini, agama berada dalam ancaman yang sangat serius. Tidak jarang agama mala menjadi dasar dalil untuk mengobrak-abrik sisi lain dari kemanusiaan kita. Banyak fenomena yang memperlihatkan dan bahkan mempertontonkan agama sebagai institusi justru menjadi sumber-sumber utama persoalan. Hal ini tentu membuat publik bertanya-tanya dimanakah letak fundamen problematic agama kini? Represi brutal di Paris beberapa waktu lalu merupakan rezim terorisme yang mengusung ideology agama sebagai pembenaran. Di negeri kita saat ini bergelut dengan orang hilang secara misterius dan mengejutkan banyak pihak. Ancaman teror rupanya masih tumbuh subur dan terus mengganggu peradaban bangsa kita. Fenomena kehilangan beberapa mahasiswa dan dokter Rica bersama anaknya memperlihatkan fenomena itu.

Semua kebenaran sejati sepertinya menjadi hak mutlak agama. Sebenarnya dilema bagi agama kini menjadi penghambat akal sehat manusia. Dalam konteks ini muncul pertanyaan, siapakah Tuhan dan siapakah manusia itu? Disinilah tantangan bagi agama untuk penting merefleksikan sisi lain dari agama. Bahwa ada kesatuan pengalaman dalam agama yang menjadi dasar yang mewujud dalam dimensi kemanusiaan kita. Dalam situasi dan kondisi saat ini, agama sering di jadikan pembenaran ideologis, untuk menggerogoti kemanusiaan sesama dengan segala sistem doktrinasinya. Hal ini wajar Karena agama selalu melegitimasi kebenaran yang satu dan mutlak. Agama selalu memberikan pemahaman tentang apa yang anda percayai bukan apa yang anda lakukan. Salah satu pokok persoalan lagi adalah tendensi totaliterisme.

Seperti apa yang di kemukakan oleh Prof bambang Sugiharto dalam sebuah symposium agama di Universitas Parahyangan Bandung. Perpaduan dari anggapan diri paling benar, sehingga kita memahami Tuhan yang menuntut dan moralitas kekanak-kanakan. Agama selalu mempunyai kecenderungan untuk mentotalisasikan segala aspek kehidupan. Pada pokok pemikiran inilah agama justru menjadi faktor yang mempersulit ruang gerak orang dalam membedakan kepentingan. Disitulah agama menampilkan keseramannya untuk menimbulkan masalah dalam mencabik-cabik kemanusiaan kita.

Pada dasarnya semua agama pernah mengalami masa krisis, masa penuh radikal dan pemutlakan diri untuk memanipulasi segala macam tindakan kejahatan. Pada masa abad pertengahan, agama katolik menampilkan wajah yang menyeramkan. Munculnya lembaga inkuisisi yang dengan mutlak menghabisi dan mencabik-cabik kemanusiaan itu sendiri. Di saat itu pula kekatolikan di acak-acak dan diperbincangkan, karena menghabisi nyawa orang banyak. Dan masih banyak contoh lain dari perjalanan agama-agama besar. Kebetulan yag terjadi saat ini adalah Islam, maka perspektif selalu berkembang bahwa Islam selalu identik dengan terorisme. Yang dipersalahkan mala agama, padahal terorisme adalah tindakan atas kehendak personal manusia. Saya rasa agama manapun di dunia ini pasti ada kesamaan yang melampui segala sesuatunya. Fenomena terorisme selalu menarik perhatiaan dunia dan karena selalu di bawa ke dalam rana agama untuk mencapai kebenaran yang mutlak.

Fenomena ISIS, menarik perhatian dunia. Keprihatinan akan praktek beragama yang melegitimasi keilahian dengan jalan kejahatan yang menyeramkan. Gerakan ISIS mencoreng wajah Islam. ISIS mengganggu kemanusiaan. organisasi ini muncul dengan totalisasi segala aspek, politik dan ekonomi masuk dalam rana ini.

Kehadirannya membuat dunia geram, karena tindakan keji yang mengatasnamakan agama Islam. padahal dasar ajaran dari keislaman adalah kedamaian. Pemahaman ini harus dipahami dunia, bahwa ISIS bukanlah Islam. Hal ini memperjelas keberadaan ISIS sebagai lembaga atau organisasi yang immoralitas dan penuh kekejaman. Pada konteks situasi ini, Islam dunia harus bercermin dari Islam Indonesia.
Bukan berarti Islam yang lain tidak baik, melainkan Islam Indonesialah yang mampu memperjelas dasariah dari ajaran keislaman itu sendiri. Islam yang damai, tergambar dalam keindonesiaan kita. Islam Indonesia menjadi panutan bagi negara-negara lain di dunia. Ini adalah mungkin benteng yang paling ampuh bagi Indonesia untuk meredamkan aksi-aksi kejam dari ISIS.
Reaksi dan tindakan atas nama agama Islam membuat orang sulit untuk berpikir secara rasional. Karena tindakan kekejaman mereka yang menyeramkan dan menjijikkan, tetapi masih ada juga orang berbondong-bondong untuk mau terlibat dan bergabung, yang lebih prihatin adalah banyaknya mahasiswa juga yang terjerumus di dalamnya. Bangsa kita sepertinya, sedang dalam ancaman terorisme yang sangat menyeramkan sekaligus menakutkan. Dalam hal ini saya mencoba memulai mengantar kita untuk memahami kata terorisme.

Teror
Teror secara harafiah selalu identik dengan rasa takut. Ketakutan muncul karena ada tindakan teror itu sendiri. Ketakutan tersebut berawal dari tindakan teror itu. Dalam artian teror adalah sebuah tindakan yang menimbulkan, menghidupkan bahkan membangkitkan rasa takut. Dari rasa takut tersebut, maka adanya reaksi untuk melawan sebagai bentuk melindungi diri dari gangguan atau teror tersebut.

Nah pada konteks yang lain, yang mendasari sebuah gerakan teror adalah bagaimana kemampuan teror itu untuk berhasil mengancam dan mengoyangkan keberadaan orang lain. Disinilah teror dapat dipahami sebagai upaya untuk mereproduksi kekuasaan, melegitimasi keberadaannya, dan menguasai suatu tatanan dunia dan lingkungan yang baru. Untuk mencapai itu semua, tindakan teror harus punya strategi tertentu untuk mencapai tujuannya. Tindakkan teror selalu punya tujuan yang ingin dicapai. Dalam konteks ini saya rasa jelas bahwa teror sebagai tindakan dan strategi politik yang politis untuk memobilisasi masa menuju puncak kekuasaan.

Isme
Jika teror sebagai tindakan politis, maka disitu muncul kata Isme. Isme merupakan cakupan dari pemikiran-pemikiran, ajaran-ajaran yang dijadikan sebagai dasar untuk membangun strategi dalam membangkitkan dan menghasilkan rasa takut, dan bagaimana caranya memotivasi orang lain untuk mau melakukan tindakan teror tersebut di atas. Isme mengubah pemikiran orang untuk mencari jalan sebagai seorang provokator dan pendorong utama dalam melakukan aksi-aksi teror. Dalam hal ini, agama bukanlah bagian dari isme. Karena pada dasarnya isme lahir setelah agama sudah jauh hidup dalam peradaban manusia. Isme lahir sebagai cara baru untuk menentang ideology penguasa dalam ruang dan waktunya. Semangat baru dalam mendobrak penguasa saat tertentu, dimana ada ambisi untuk mencapai kekuasaan dan menguasai suatu wilayah dengan ideology, pemahaman baru, dan upaya menafsirkan suatu ajaran dengan jalan pemikiran sendiri yang berdasarkan apa yang mau di capai.

Terorisme
Berasal dari gabungan kata teror dan isme maka terorisme bisa di artikan sebagai suatu isme. Merupakan suatu ajaran baru, pandangan dan perspektif baru (bukan agama), untuk memobilisasi masa, upaya untuk memotivasi dan mendorong terhadap tindakan mengganggu dan mengancam orang lain dengan strateginya. Disini letak basis ideology dari terorisme. Dasar ideology dari terorisme adalah teror (Haryatmoko, Kompas 25/8/2009). Maka untuk mendukung tindakan tersebut dalam dunia terorisme sistem pendidikan doktriner dan missioner menjadi penting. Basis pemikiran ini yang kemudian mengantar orang pada pembenaran terhadap suatu tindakan kejahatan dengan dalil ideologinya. Hal ini tergambar dalam situasi Timur Tengah saat ini yang membuat prasangka yang tidak baik dari banyak kalangan terhadap umat Muslim. 
Namun yang menjadi pertanyaannya, mengapa orang mau ikut terlibat dalam aksi terorisme? Pada dasarnya ada dua sisi dari kehidupan kita yang perlu dipahami disini. Yang pertama adalah sisi pengetahuan dan pemahaman akan ajaran-ajaran tersebut diatas. Pada sisi yang lain adalah bahwa manusia punya titik kerapuhan diri secara subjektif itu sendiri. Masalahnya semakin rumit ketika agama di reduksi hanya sebagai ideology semata.

Agama Bukan Terorisme
Untuk menekan dan meredamkan aksi terorisme, maka agama harus mengambil jalan tengah menuju pemahaman yang lebih dalam. Agama sebagai sistem yang harus terus – menerus  menyadarkan kepada setiap pribadi bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari hasrat dan kebutuhan pribadi. Bahwa agamalah yang melahirkan pribadi-pribadi inspirasi dengan sisi-sisi terbaiknya dalam kemanusiaan itu sendiri.
Bahwa agama selalu memberikan refleksi dan kesempatan untuk merenungkan semua proses kehidupan yang kita jalani menuju keluhuran dari sisi-sisi kemanusiaan kita. Agama selalu mengajarkan tentang ajaran moral dan menawarkan alternative untuk bertindak sesuai dengan pluralitas nilai yang mendalam. Agama memberikan ruang dan waktu bagi kita untuk berpetualangan tanpa meninggalkan ke kedalamannya. Persoalan akhir-akhir ini memunculkan banyak prasangka yang tidak baik kepada sesama umat kita Muslim. Sebagai akibat dari tindakan organisasi yang tidak bertanggung jawab, disaat tertentu sering memanfaatkan agama sebagai dasar ajaran doktrinnya. Itulah yang di alami oleh sesama umat dari kaum Muslim. Ingatlah semua agama hadir untuk mendamaikan. Agama itu pusat keindahan yang mengagumkan yang menjalar lewat pengalaman baik positif maupun negative. Begitupun dengan Islam, sama seperti agama yang lain. Kehadiran Islam untuk memperindah setiap perbedaan.


Itulah personalisasi keislaman yang tampak dalam diri seorang Gusdur, Ahmad Syafi’i maarif, Quray Shihab, KH. Musthopa Bisri, Nurcolish Madjid dan masih banyak lagi seperti yang banyak orang kenal pada umumnya, tokoh-tokoh inspirasi seperti mereka hadir dalam membangun bangsa Indonesia dengan semangat dan spirit dasar keislaman itu sendiri. Mereka melihat kesatuan pengalaman iman dalam keislaman itu sendiri. Mereka adalah pribadi inspirasi yang menjadi guru bangsa Indonesia, bukan hanya milik orang Muslim melainkan semua agama. Tentunya, semua inspirasi mereka, karena dasar keislaman yang kuat dan mendalam dalam proses perjalanan hidupnya masing-masing, untuk semakin menghayati makna perwujudan iman Islam itu sendiri. Mereka menampilkan wajah Islam yang sebenarnya dalam keindonesiaan  untuk menginpirasi dunia. Mereka menjelajahi perbedaan, ketika yang lain menghindar. Mereka mendekati, ketika yang lain mencurigai. Bagi mereka Tuhan sungguh kreatif, karena kehadiran Islam memberi warna baru dalam menciptakan keindahan itu.

Oleh : Marz Wera

Tidak ada komentar: