Menalar Terorisme
Akhir-akhir ini, agama berada dalam ancaman yang
sangat serius. Tidak jarang agama mala menjadi dasar dalil untuk
mengobrak-abrik sisi lain dari kemanusiaan kita. Banyak fenomena yang
memperlihatkan dan bahkan mempertontonkan agama sebagai institusi justru
menjadi sumber-sumber utama persoalan. Hal ini tentu membuat publik bertanya-tanya
dimanakah letak fundamen problematic agama kini? Represi brutal di Paris
beberapa waktu lalu merupakan rezim terorisme yang mengusung ideology agama
sebagai pembenaran. Di negeri kita saat ini bergelut dengan orang
hilang secara misterius dan mengejutkan banyak pihak. Ancaman teror rupanya
masih tumbuh subur dan terus mengganggu peradaban bangsa kita. Fenomena
kehilangan beberapa mahasiswa dan dokter Rica bersama anaknya memperlihatkan
fenomena itu.
Semua kebenaran sejati sepertinya menjadi hak mutlak
agama. Sebenarnya dilema bagi agama kini menjadi penghambat akal sehat manusia.
Dalam konteks ini muncul pertanyaan, siapakah Tuhan dan siapakah manusia itu? Disinilah
tantangan bagi agama untuk penting merefleksikan sisi lain dari agama. Bahwa
ada kesatuan pengalaman dalam agama yang menjadi dasar yang mewujud dalam
dimensi kemanusiaan kita. Dalam situasi dan kondisi saat ini, agama sering di
jadikan pembenaran ideologis, untuk
menggerogoti kemanusiaan sesama dengan segala sistem doktrinasinya. Hal ini
wajar Karena agama selalu melegitimasi kebenaran yang satu dan mutlak. Agama
selalu memberikan pemahaman tentang apa yang anda percayai bukan apa yang anda
lakukan. Salah satu pokok persoalan lagi adalah tendensi totaliterisme.
Seperti apa yang di kemukakan oleh Prof bambang
Sugiharto dalam sebuah symposium agama di Universitas Parahyangan Bandung. ‘Perpaduan dari anggapan diri paling benar, sehingga
kita memahami Tuhan yang menuntut dan moralitas kekanak-kanakan’. Agama selalu mempunyai kecenderungan untuk
mentotalisasikan segala aspek kehidupan. Pada pokok pemikiran inilah agama
justru menjadi faktor yang mempersulit ruang gerak orang dalam membedakan
kepentingan. Disitulah agama menampilkan keseramannya untuk menimbulkan masalah
dalam mencabik-cabik kemanusiaan kita.
Pada dasarnya semua agama pernah mengalami masa
krisis, masa penuh radikal dan pemutlakan diri untuk memanipulasi segala macam
tindakan kejahatan. Pada masa abad pertengahan, agama katolik menampilkan wajah
yang menyeramkan. Munculnya lembaga inkuisisi yang dengan mutlak menghabisi dan
mencabik-cabik kemanusiaan itu sendiri. Di saat itu pula kekatolikan di
acak-acak dan diperbincangkan, karena menghabisi nyawa orang banyak. Dan masih
banyak contoh lain dari perjalanan agama-agama besar. Kebetulan yag terjadi
saat ini adalah Islam, maka perspektif selalu berkembang bahwa Islam selalu
identik dengan terorisme. Yang dipersalahkan mala agama, padahal terorisme
adalah tindakan atas kehendak personal manusia. Saya rasa agama manapun di
dunia ini pasti ada kesamaan yang melampui segala sesuatunya. Fenomena
terorisme selalu menarik perhatiaan dunia dan karena selalu di bawa ke dalam
rana agama untuk mencapai kebenaran yang mutlak.
Fenomena ISIS, menarik perhatian dunia. Keprihatinan
akan praktek beragama yang melegitimasi keilahian dengan jalan kejahatan yang menyeramkan.
Gerakan ISIS mencoreng wajah Islam. ISIS mengganggu kemanusiaan. organisasi ini
muncul dengan totalisasi segala aspek, politik dan ekonomi masuk dalam rana ini.
Kehadirannya membuat dunia geram, karena tindakan keji
yang mengatasnamakan agama Islam. padahal dasar ajaran dari keislaman adalah kedamaian.
Pemahaman ini harus dipahami dunia, bahwa ISIS bukanlah Islam. Hal ini
memperjelas keberadaan ISIS sebagai lembaga atau organisasi yang immoralitas
dan penuh kekejaman. Pada konteks situasi ini, Islam dunia harus bercermin dari
Islam Indonesia.
Bukan berarti Islam yang lain tidak baik, melainkan
Islam Indonesialah yang mampu memperjelas dasariah dari ajaran keislaman itu
sendiri. Islam yang damai, tergambar dalam keindonesiaan kita. Islam Indonesia
menjadi panutan bagi negara-negara lain di dunia. Ini adalah mungkin benteng
yang paling ampuh bagi Indonesia untuk meredamkan aksi-aksi kejam dari ISIS.
Reaksi dan tindakan atas nama agama Islam membuat
orang sulit untuk berpikir secara rasional. Karena tindakan kekejaman mereka
yang menyeramkan dan menjijikkan, tetapi masih ada juga orang berbondong-bondong
untuk mau terlibat dan bergabung, yang lebih prihatin adalah banyaknya
mahasiswa juga yang terjerumus di dalamnya. Bangsa kita sepertinya, sedang
dalam ancaman terorisme yang sangat menyeramkan sekaligus menakutkan. Dalam hal
ini saya mencoba memulai mengantar kita untuk memahami kata terorisme.
Teror
Teror secara harafiah selalu identik dengan rasa
takut. Ketakutan muncul karena ada tindakan teror itu sendiri. Ketakutan tersebut
berawal dari tindakan teror itu. Dalam artian teror adalah sebuah tindakan yang
menimbulkan, menghidupkan bahkan membangkitkan rasa takut. Dari rasa takut
tersebut, maka adanya reaksi untuk melawan sebagai bentuk melindungi diri dari
gangguan atau teror tersebut.
Nah pada konteks yang lain, yang mendasari sebuah
gerakan teror adalah bagaimana kemampuan teror itu untuk berhasil mengancam dan
mengoyangkan keberadaan orang lain. Disinilah teror dapat dipahami sebagai
upaya untuk mereproduksi kekuasaan, melegitimasi keberadaannya, dan menguasai
suatu tatanan dunia dan lingkungan yang baru. Untuk mencapai itu semua,
tindakan teror harus punya strategi tertentu untuk mencapai tujuannya.
Tindakkan teror selalu punya tujuan yang ingin dicapai. Dalam konteks ini saya rasa
jelas bahwa teror sebagai tindakan dan strategi politik yang politis untuk
memobilisasi masa menuju puncak kekuasaan.
Isme
Jika teror sebagai tindakan politis, maka disitu
muncul kata Isme. Isme merupakan cakupan dari pemikiran-pemikiran,
ajaran-ajaran yang dijadikan sebagai dasar untuk membangun strategi dalam membangkitkan
dan menghasilkan rasa takut, dan bagaimana caranya memotivasi orang lain untuk
mau melakukan tindakan teror tersebut di atas. Isme mengubah pemikiran orang
untuk mencari jalan sebagai seorang provokator dan pendorong utama dalam
melakukan aksi-aksi teror. Dalam hal ini, agama bukanlah bagian dari isme.
Karena pada dasarnya isme lahir setelah agama sudah jauh hidup dalam peradaban
manusia. Isme lahir sebagai cara baru untuk menentang ideology penguasa dalam
ruang dan waktunya. Semangat baru dalam mendobrak penguasa saat tertentu,
dimana ada ambisi untuk mencapai kekuasaan dan menguasai suatu wilayah dengan
ideology, pemahaman baru, dan upaya menafsirkan suatu ajaran dengan jalan
pemikiran sendiri yang berdasarkan apa yang mau di capai.
Terorisme
Berasal dari gabungan kata teror dan isme maka terorisme bisa di artikan
sebagai suatu isme. Merupakan suatu
ajaran baru, pandangan dan perspektif baru (bukan agama), untuk memobilisasi
masa, upaya untuk memotivasi dan mendorong terhadap tindakan mengganggu dan
mengancam orang lain dengan strateginya. Disini letak basis ideology dari
terorisme. Dasar ideology dari terorisme adalah teror (Haryatmoko, Kompas
25/8/2009). Maka untuk mendukung tindakan tersebut dalam dunia terorisme sistem
pendidikan doktriner dan missioner menjadi penting. Basis pemikiran ini yang
kemudian mengantar orang pada pembenaran terhadap suatu tindakan kejahatan
dengan dalil ideologinya. Hal ini tergambar dalam situasi Timur Tengah saat ini
yang membuat prasangka yang tidak baik dari banyak kalangan terhadap umat
Muslim.
Namun yang menjadi pertanyaannya, mengapa orang mau
ikut terlibat dalam aksi terorisme? Pada dasarnya ada dua sisi dari kehidupan
kita yang perlu dipahami disini. Yang pertama adalah sisi pengetahuan dan
pemahaman akan ajaran-ajaran tersebut diatas. Pada sisi yang lain adalah bahwa
manusia punya titik kerapuhan diri secara subjektif itu sendiri. Masalahnya
semakin rumit ketika agama di reduksi hanya sebagai ideology semata.
Agama Bukan Terorisme
Untuk menekan dan meredamkan aksi terorisme, maka
agama harus mengambil jalan tengah menuju pemahaman yang lebih dalam. Agama
sebagai sistem yang harus terus – menerus
menyadarkan kepada setiap pribadi bahwa ada sesuatu yang lebih penting
dari hasrat dan kebutuhan pribadi. Bahwa agamalah yang melahirkan
pribadi-pribadi inspirasi dengan sisi-sisi terbaiknya dalam kemanusiaan itu
sendiri.
Bahwa agama selalu memberikan refleksi dan kesempatan
untuk merenungkan semua proses kehidupan yang kita jalani menuju keluhuran dari
sisi-sisi kemanusiaan kita. Agama selalu mengajarkan tentang ajaran moral dan
menawarkan alternative untuk bertindak sesuai dengan pluralitas nilai yang
mendalam. Agama memberikan ruang dan waktu bagi kita untuk berpetualangan tanpa
meninggalkan ke kedalamannya. Persoalan akhir-akhir ini memunculkan banyak
prasangka yang tidak baik kepada sesama umat kita Muslim. Sebagai akibat dari
tindakan organisasi yang tidak bertanggung jawab, disaat tertentu sering
memanfaatkan agama sebagai dasar ajaran doktrinnya. Itulah yang di alami oleh
sesama umat dari kaum Muslim. Ingatlah semua agama hadir untuk mendamaikan.
Agama itu pusat keindahan yang mengagumkan yang menjalar lewat pengalaman baik
positif maupun negative. Begitupun dengan Islam, sama seperti agama yang lain.
Kehadiran Islam untuk memperindah setiap perbedaan.
Itulah personalisasi keislaman yang tampak dalam diri
seorang Gusdur, Ahmad Syafi’i maarif, Quray Shihab, KH. Musthopa Bisri,
Nurcolish Madjid dan masih banyak lagi seperti yang banyak orang kenal pada umumnya, tokoh-tokoh inspirasi seperti mereka hadir dalam
membangun bangsa Indonesia dengan semangat dan spirit dasar keislaman itu
sendiri. Mereka melihat kesatuan pengalaman iman dalam keislaman itu sendiri.
Mereka adalah pribadi inspirasi yang menjadi guru bangsa Indonesia, bukan hanya
milik orang Muslim melainkan semua agama. Tentunya, semua inspirasi mereka,
karena dasar keislaman yang kuat dan mendalam dalam proses perjalanan hidupnya
masing-masing, untuk semakin menghayati makna perwujudan iman Islam itu sendiri.
Mereka menampilkan wajah Islam yang sebenarnya dalam keindonesiaan untuk menginpirasi dunia. Mereka menjelajahi
perbedaan, ketika yang lain menghindar. Mereka mendekati, ketika yang lain
mencurigai. Bagi mereka Tuhan sungguh kreatif, karena kehadiran Islam memberi
warna baru dalam menciptakan keindahan itu.
Oleh : Marz Wera


Tidak ada komentar:
Posting Komentar