Ketiganya dikontsruksi dan
dijajakan lewat persuasi maupun seduksi. Di sisi lain, fesyen, seks dan kuliner
adalah juga manifestasi idealisme modern sendiri, yang berfokus pada produksi
‘kebaruan’ terus menerus, tanpa henti.
Masalahnya, di sana kebebasan
manusia dan tata nilai lantas berada dalam posisi ambigu. Di saat yang sama muncul
juga konsekuensi dan resiko lebih dalam dari gaya hidup urban tersebut. Dalam
konteks itu apa yang perlu direnungkan?
Salah satu fenomena yang paling
menyolok era modernitas adalah kebebasan tubuh. Jiwa sebagai identitas
tradisional mulai diabaikan. Identitas modernitas justru adalah tubuh. Di sinilah
ciri khas ‘urban modern’ yaitu ‘estetisasi tubuh’. Prof Bambang Sugiharto
sebagai narasumber pembuka dalam Phiolosophy Extension Course bertajuk
,‘’Fashion, Sex dan Culinary”, yang diselenggarakan oleh fakultas Filsafat
Univesitas Katolik Parahyangan Bandung dari 11 maret-3 juni 2016 (setiap hari
Jumat).
Estetisasi tubuh kini diciptakan
bukan ditemukan melalui proses perenungan dalam peristiwa hidup. Pertama,
estetisasi tubuh diciptakan melalui fashion. Ini menyangkut bagaimana tubuh
dicitrakan melalui seni/style berbusana. Lebih dalam lagi bagaimana pakaian
mere-definisi tubuh serta memberi bentuk dan ekspresi yang berbeda. namun
disaat yang sama pula dunia fashion tidak bisa keluar dari karakter artifisial
dan superficialnya.
Kedua, estetisasi tubuh diciptakan
melalui kebebasan seks. Bagaimana cara tubuh menikmatinya. Dalam kesempatan ini
seks punya tiga dimensi. Pertama seks dalam dimensi ‘eksplorasi’. Konteksnya
adalah seks sebagai rekreasi bukan prokreasi, erotica bukan hermeneutica, ia
hanya sebagai seni bukan teologi. Sedangkan dalam dimensi ‘problematisasi’,
justru seks terjebak dengan pertanyaan, apa kodrat natural seks? Pada konteks
dimensi ketiga, seks terlalu lama tertekan oleh agama dan mitos, dijebak oleh
aneka hal yang tabuh, ini pada dimensi ‘liberasi’.
Ketiga, kuliner, bagaimana cara
tubuh diberi makan. Awalnya kuliner dipandang sebagai hal yang biasa. Ia
diabaikan dalam jejak-jejak peradaban. Kini dalam dunia modern culinary justru
dianggap sebagai seni. Karena disaat yang sama dalam culinary ada eksplorasi
rasa, ada olah bentuk, ada makna kultural tersimpul di sana, ada simbol-simbol,
ada tuntutan keahlian yang unik, serta estetisasi makanan atau penciptaan
makanan.
Fashion,
Sex dan Culinary
Tiarma Sirait bereksplorasi
mengenai ‘’Fashion dan Filosofi Desain”, bahwa gagasan penampilan dalam konteks
modern sudah dipengaruhi oleh budaya populer yang tersaji dalam komunikasi
massa, saat yang sama setiap orang harus memahami pula bahwa penampilan
individu adalah masalah pribadi. Oleh karena itu, harus mencerminkan kebutuhan
individu daripada tatanan nilai masyarakat.
Dalam desain, setiap orang pasti
punya konsep pendekatan konseptual untuk berani berseni, cara mengeksplorasi
tema-tema seperti cinta dan nafsu, yang mengandung berbagai pengaruh budaya
populer ke dalam kultur lokal, yang kemudian tampil sebagai konsumerisme massa.
Yang pasti dalam dunia modernitas, seni adalah budaya yang membebaskan. Punya
potensi untuk menginspirasi dan merangsang imajinasi.
Fashion dalam estetika tubuh adalah
satu kesatuan yang tidak dipisahkan. Keduanya menyatu dalam konsep seni
kebertubuhan yang diekspresikan melalui cara berbusana. Model seni ini masuk
dalam ruang pesona yang misterius, lebih dalam lagi adalah menunjukkan kegenitan
subyektif, hal ini diungkapkan oleh Ryan Lie yang berbicara mengenai ‘’Fashion
dan Estetika Tubuh”.
Pada kesempatan yang lain Sabar
Situmorang menjelajahi mengenai keterkaitan antara “Fashion, Art dan
Industri’’. Era modern, ketiga dimensi diatas mengawali dengan daya kreatif,
merangsang nalar, mengundang imajinasi, mendoktrin kemampuan berekspresi, melatih
emosi (kemampuan logika) untuk berempati, menerobos keseriusan untuk
berrekreasi, menciptakan kemampuan transendensi untuk memaknai peristiwa hidup.
Sedangkan dalam perspektif
‘Metafisika Seks’ yang dibawakan oleh Prof Bambang Sugiharto, bahwa seks masuk
dalam dua ruang lingkup pendekatan antara yang konseptual dan normatif. Yang
konseptual membicarakan mengenai hakekat dasar seks (metafisikanya?)
sedangkan yang normatif mempermasalahkan
baik dan buruknya.
Ada tiga dimensi penting dalam
pendekatan konseptual. Pertama, pesimis, misalkan pernyataan dari Immanuel Kant
,’’ Menginginkan pihak lain berarti
mengobyektivikasi dia, menjadikannya sekedar obyek hasrat kita. Orang tidak
lagi dilihat sebagai dirinya yang utuh, melainkan hanya bagian tertentunya
saja, yang merangsang kita. Selain itu, dalam hubungan seks kedua pihak
kehilangan kendali-diri. Maka dalam seks manusia kehilangan martabatnya yang
luhur, menjadi seperti binatang’’.
Dimensi kedua adalah yang
optimis, bersanding ke Thomas Nagel, ‘’ Seks yang bertujuan hanya untuk prokreasi justru sama dengan
binatang. Yang khas manusia adalah aspek psikologisnya, yaitu pengakuan
keterangsangan secara timbal-balik sehingga kedua pihak dalam pengalaman
seksual itu menyadari diri sebagai subyek sekaligus obyek. ‘Penyimpangan’
(perversi) adalah jika pengakuan timbal balik itu tidak ada’’.
Kemudian Plato dengan sangat
dalam merumuskan pada dimensi yang ketiga yaitu yang netral, ‘’ Seks pada dirinya sendiri tidak
baik atau buruk. Ada ‘eros’ yang vulgar, ada ‘eros’ yang surgawi. Yang vulgar
adalah keinginan seksual yang hanya mencari kepuasan sendiri saja dan bisa
dipuaskan oleh siapa pun. Yang surgawi (‘heavenly’) adalah keinginan
seks terhadap orang tertentu saja, pada tubuh maupun karakter dan
kepribadiannya’’.
Saraswati Dewi memperdalam tema
‘’Seks dan Spiritualitas”, bahwa hasrat bukan hanya fakta tentang keberadaan
manusia, tetapi hasrat identik dengan ‘atman’ dan bagaimana jiwa kita selalu
mencari kebahagiaan serta keindahan cinta. Kita harus membayangkan bahwa tubuh,
meski dikatakan berpotensi menjerumuskan manusia kedalam duka, kita dapat
mengandaikan bahwa tubuh adalah penghubung manusia dengan sang Brahman yang
menjadi sumber kebahagiaan.
Namun ketika modernitas berjalan,
seks pun berubah dengan perilaku yang berbeda. intinya bahwa seks adalah
aktivitas, namun modernitas memaksa untuk di-digitalkan. Fenomena ini tampak
dalam pendalaman yang disampaikan oleh Prof Yasraf Amir pilliang dengan tema ‘’Digitalisasi
seks”.
Bahwa seks adalah aktivitas,
tindak dan hubungan yang tak hanya melibatkan dimensi fisikbiologis-kimiawi,
akan tetapi juga psikis, sosial, kultural dan spiritual. Seks adalah aktivitas
multidimensi, dengan relasi-relasi kompleks dan dinamis. Dalam kompleksitas
inilah, seks selalu hadir dalam bentuk-bentuk yang paradoks dan kontradiktif.
Seks secara fisik-biologis adalah kondisi ‘menyatunya’ tubuh dua insan sebagai
pasangan, akan tetapi secara psikis seks memisahkan, karena kedua individu
ingin mencari kepuasaan masing-masing, dengan memanfaatkan pasangannya.
Paradoks seks adalah, bahwa seks adalah tindak egoistik dalam kebersamaan,
tindak mencapai kepuasan individu dalam kemenyatuan tubuh.
Seks bersifat menyatukan,
mendekatkan, dan mengakrabkan pasangan, akan tetapi sekaligus memisahkan,
menjauhkan dan menjarakkan dengan orang-orang lain. Seks menanggalkan
batas-batas (dinding, kamar, rumah, rasa malu) di antara pasangan, tetapi membangun
tirai-tirai sosial. Dalam bingkai digitalisisasi, seks menyatukan, tetap menyatukan
dalam “keberjarakan”; seks menciptakan keintiman, tetapi “keintiman dalam keberjauhan”.
Seks adalah sebuah paradoks, karena ia adalah bentuk keintiman sekaligus keberjarakan,
kebersatuan sekaligus keterpisahan. Dua tubuh memang bersatu dalam sebuah
hubungan intim , tetapi masing-masing diri menggunakan tubuh pasangannya untuk
mendapatkan kepuasaannya dirinya sendiri, semacam egoisme seksual.
Seks dalam bentuk digital adalah
seks dalam kontradiksi. Digitalisasi seks membentangkan cara, bentuk, teknik,
model, relasi, pengalaman, nilai dan makna-makna baru seks; akan tetapi, ia
sekaligus menutup , bentuk, teknik, model, relasi, pengalaman, nilai dan
makna-makna yang sebelumnya. Dalam hal ini, “teknologisasi seks”— khususnya dalam
bentuk digitalisasi seks—adalah sebuah alētheia, sebuah cara membuka sebuah
kemungkinan “dunia seks” yang baru, akan tetapi sekaligus menutup dunia seks yang
sebelumnya. Digitalisasi seks tak hanya mengenalkan ‘tubuh’ yang baru—yaitu tubuh
digital atau virtual, dengan ‘kulit baru’ berupa lapisan teknologi pada
tubuh—akan tetapi menutup lembaran tubuh yang lama, yaitu tubuh fisik-biologis.
Aquirini Priyatna memberikan
pendalaman mengenai ‘’Ideologisasi Seks’’. Mengutip, Lottes, ‘’ ideologi
seksual adalah keyakinan yang koheren berkenaan dengan perilaku seksual, yang
dianggap layak, diterima, diinginkan dan terberi’’. Bersanding ke Reiss yang
membagi ideologi seks kedalam tiga kompetisi (kompeting). Pertama, ideologi
romantik tradisional, lebih menekankan pada ketertundukkan dan inferioritas
seksual perempuan. Kedua, ideologi naturalistik modern, upaya merangkul
kesetaraan gender dan menghargai berbagai ekspresi baik laki-laki maupun
perempuan. Ketiga, abstinence, menolak segala bentuk permissivitas pada
laki-laki maupun perempuan.
Sementara dalam wacana fakta
sosial, seksualitas sebagai suatu bentuk pengalaman yang bersifat historis,
“yang dibangun melalui tiga sumber : pengetahuan, serangkaian aturan yang
menyebutkan secara spesifik yang mana tidak boleh dan boleh dilakukan, dan
modus relasi diri yang membentuk suatu individual menjadi ‘’subjek seksual’’.
Dalam konteks itu maka seorang Beauvoir merumuskan, ‘’man is human being with
sexuality; woman is a complete individual, equal to the male, only if she too
is a human being with sexuality. To renounce her femininity is to renounce a part
of her humanity’’.
Sama halnya dalam urusan
makan-minum bukan hanya untuk memenuhi lapar dan haus, tapi ada kebersamaan
yang terjalin, ada idealisme yang akan muncul, juga terciptanya imajinasi
kreatif, juga merangsang nalar untuk berpikir. Bahwa sopan santun di meja makan,
sebagai citra keorangan yang terdidik, tak dapat tiada, merupakan idealitas
sebuah zaman yang normal. Artinya, hanya dalam keadaan normal manusia bisa
mengurus segala gagasan sampai tindakan yang membangun harkat peradabannya.
Sebab, dalam keadaan tidak normal manusia hanyalah hewan bercelana yang karuan
memerankan cerita Charles Darwin, demikian kata Remy Sylado yang juga berbicara
dalam kesempatan yang sama dengan tema,’’Are You What You Eat?”.
Pada penutupnya, Prof Bambang
Sugiharto kembali menggambarkan mengenai tema,’’Percakapan, Suasana dan Ngopi”.
Dalam kehidupan urban ada tiga ruang. Pertama, ruang privat, dimana adanya
tuntutan survival namun tanpa jaminan. Lingkup dimana adanya dunia kerja
impersonal yang mengarah pada tendensi narsistik. Kedua, ruang publik, dimana
adanya godaan pesona tanpa akhir, namun penuh bujukkan. Ruang terjadinya
disintegrasi komunitas yang mengarah pada kultur sharing maya. Ketiga, cafe
culture (third space), ini adalah ruang dimana kesukaan tidak memiliki daya
ikat. Dunia yang tidak pasti tapi mengasyikkan. Karena disinilah penyatuan
antara modern urban dengan heterogenitasnya.
Pada akhirnya, modernitas
menuntut penalaran rasional dalam segala bentuk dan pola kehidupan. Itulah ciri
khas kehidupan kaum urban. Ia bebas namun penuh ketidakpastian. Di saat yang
sama yang tak pasti tersebut malah mengasyikkan. Dan kesempatan yang sama kita
dipaksa untuk melatih dan bahkan membiasakan dengan ketidakpastian itu. Cafe
culture sebagai ruang ketiga menawarkan suasana untuk mempercakapkan berbagai
macam peristiwa hidup, berbicara mengenai permenungan mendalam atas hidup.
Bersanding ke J Pieper bahwa, ’’waktu
senggang adalah waktu lahirnya sumber kebudayaan’’. Heidegger sedikit berbeda
menanggapi ketidakpastian diatas dengan mengatakan, ’’ngobrol omong kosong
adalah orang yang tidak butuh dengan dirinya sendiri’’.
Era modern urban identik dengan
yang tidak pasti. Dunia yang tak terprediksi. Perubahan menjalar dengan gesit.
Fesyen, seks dan kuliner adalah penanda identitas kehidupan kaum urban. Maka
cafe culture adalah saat dimana orang sedang menunggu hari ketika matahari
sedang mengusut perlahan-lahan dalam kedesahan datangnya senja. Saat itulah
godaan imajinasi kita dirangsang untuk memikirkan sesuatu, tapi sangat
misterius. Karena ketidakpastian itu asyik, mungkin dengan sesuatu yang
misterius juga, disaat yang sama justru kebudayaan perlahan pula dibentuk
olehnya.
Oleh : Marz Wera

Tidak ada komentar:
Posting Komentar