Kamis, 04 Agustus 2016

Penanda Identitas Kehidupan Kaum Urban

Fesyen, seks dan kuliner adalah penanda pokok gaya hidup urban. Ketiganya adalah bagian dari mesin industri yang menggerakkan kehidupan kota modern ; industri hasrat, industri identitas, industri pencitraan, dan industri selera.
Ketiganya dikontsruksi dan dijajakan lewat persuasi maupun seduksi. Di sisi lain, fesyen, seks dan kuliner adalah juga manifestasi idealisme modern sendiri, yang berfokus pada produksi ‘kebaruan’ terus menerus, tanpa henti.


Masalahnya, di sana kebebasan manusia dan tata nilai lantas berada dalam posisi ambigu. Di saat yang sama muncul juga konsekuensi dan resiko lebih dalam dari gaya hidup urban tersebut. Dalam konteks itu apa yang perlu direnungkan?
Salah satu fenomena yang paling menyolok era modernitas adalah kebebasan tubuh. Jiwa sebagai identitas tradisional mulai diabaikan. Identitas modernitas justru adalah tubuh. Di sinilah ciri khas ‘urban modern’ yaitu ‘estetisasi tubuh’. Prof Bambang Sugiharto sebagai narasumber pembuka dalam Phiolosophy Extension Course bertajuk ,‘’Fashion, Sex dan Culinary”, yang diselenggarakan oleh fakultas Filsafat Univesitas Katolik Parahyangan Bandung dari 11 maret-3 juni 2016 (setiap hari Jumat).

Estetisasi tubuh kini diciptakan bukan ditemukan melalui proses perenungan dalam peristiwa hidup. Pertama, estetisasi tubuh diciptakan melalui fashion. Ini menyangkut bagaimana tubuh dicitrakan melalui seni/style berbusana. Lebih dalam lagi bagaimana pakaian mere-definisi tubuh serta memberi bentuk dan ekspresi yang berbeda. namun disaat yang sama pula dunia fashion tidak bisa keluar dari karakter artifisial dan superficialnya.
Kedua, estetisasi tubuh diciptakan melalui kebebasan seks. Bagaimana cara tubuh menikmatinya. Dalam kesempatan ini seks punya tiga dimensi. Pertama seks dalam dimensi ‘eksplorasi’. Konteksnya adalah seks sebagai rekreasi bukan prokreasi, erotica bukan hermeneutica, ia hanya sebagai seni bukan teologi. Sedangkan dalam dimensi ‘problematisasi’, justru seks terjebak dengan pertanyaan, apa kodrat natural seks? Pada konteks dimensi ketiga, seks terlalu lama tertekan oleh agama dan mitos, dijebak oleh aneka hal yang tabuh, ini pada dimensi ‘liberasi’.

Ketiga, kuliner, bagaimana cara tubuh diberi makan. Awalnya kuliner dipandang sebagai hal yang biasa. Ia diabaikan dalam jejak-jejak peradaban. Kini dalam dunia modern culinary justru dianggap sebagai seni. Karena disaat yang sama dalam culinary ada eksplorasi rasa, ada olah bentuk, ada makna kultural tersimpul di sana, ada simbol-simbol, ada tuntutan keahlian yang unik, serta estetisasi makanan atau penciptaan makanan.

Fashion, Sex dan Culinary
Tiarma Sirait bereksplorasi mengenai ‘’Fashion dan Filosofi Desain”, bahwa gagasan penampilan dalam konteks modern sudah dipengaruhi oleh budaya populer yang tersaji dalam komunikasi massa, saat yang sama setiap orang harus memahami pula bahwa penampilan individu adalah masalah pribadi. Oleh karena itu, harus mencerminkan kebutuhan individu daripada tatanan nilai masyarakat.
Dalam desain, setiap orang pasti punya konsep pendekatan konseptual untuk berani berseni, cara mengeksplorasi tema-tema seperti cinta dan nafsu, yang mengandung berbagai pengaruh budaya populer ke dalam kultur lokal, yang kemudian tampil sebagai konsumerisme massa. Yang pasti dalam dunia modernitas, seni adalah budaya yang membebaskan. Punya potensi untuk menginspirasi dan merangsang imajinasi.
Fashion dalam estetika tubuh adalah satu kesatuan yang tidak dipisahkan. Keduanya menyatu dalam konsep seni kebertubuhan yang diekspresikan melalui cara berbusana. Model seni ini masuk dalam ruang pesona yang misterius, lebih dalam lagi adalah menunjukkan kegenitan subyektif, hal ini diungkapkan oleh Ryan Lie yang berbicara mengenai ‘’Fashion dan Estetika Tubuh”.

Pada kesempatan yang lain Sabar Situmorang menjelajahi mengenai keterkaitan antara “Fashion, Art dan Industri’’. Era modern, ketiga dimensi diatas mengawali dengan daya kreatif, merangsang nalar, mengundang imajinasi, mendoktrin kemampuan berekspresi, melatih emosi (kemampuan logika) untuk berempati, menerobos keseriusan untuk berrekreasi, menciptakan kemampuan transendensi untuk memaknai peristiwa hidup.
Sedangkan dalam perspektif ‘Metafisika Seks’ yang dibawakan oleh Prof Bambang Sugiharto, bahwa seks masuk dalam dua ruang lingkup pendekatan antara yang konseptual dan normatif. Yang konseptual membicarakan mengenai hakekat dasar seks (metafisikanya?) sedangkan  yang normatif mempermasalahkan baik dan buruknya.
Ada tiga dimensi penting dalam pendekatan konseptual. Pertama, pesimis, misalkan pernyataan dari Immanuel Kant ,’’ Menginginkan pihak lain berarti mengobyektivikasi dia, menjadikannya sekedar obyek hasrat kita. Orang tidak lagi dilihat sebagai dirinya yang utuh, melainkan hanya bagian tertentunya saja, yang merangsang kita. Selain itu, dalam hubungan seks kedua pihak kehilangan kendali-diri. Maka dalam seks manusia kehilangan martabatnya yang luhur, menjadi seperti binatang’’.

Dimensi kedua adalah yang optimis, bersanding ke Thomas Nagel, ‘’ Seks yang bertujuan hanya untuk prokreasi justru sama dengan binatang. Yang khas manusia adalah aspek psikologisnya, yaitu pengakuan keterangsangan secara timbal-balik sehingga kedua pihak dalam pengalaman seksual itu menyadari diri sebagai subyek sekaligus obyek. ‘Penyimpangan’ (perversi) adalah jika pengakuan timbal balik itu tidak ada’’.
Kemudian Plato dengan sangat dalam merumuskan pada dimensi yang ketiga yaitu yang netral, ‘’ Seks pada dirinya sendiri tidak baik atau buruk. Ada ‘eros’ yang vulgar, ada ‘eros’ yang surgawi. Yang vulgar adalah keinginan seksual yang hanya mencari kepuasan sendiri saja dan bisa dipuaskan oleh siapa pun. Yang surgawi (‘heavenly’) adalah keinginan seks terhadap orang tertentu saja, pada tubuh maupun karakter dan kepribadiannya’’.
Saraswati Dewi memperdalam tema ‘’Seks dan Spiritualitas”, bahwa hasrat bukan hanya fakta tentang keberadaan manusia, tetapi hasrat identik dengan ‘atman’ dan bagaimana jiwa kita selalu mencari kebahagiaan serta keindahan cinta. Kita harus membayangkan bahwa tubuh, meski dikatakan berpotensi menjerumuskan manusia kedalam duka, kita dapat mengandaikan bahwa tubuh adalah penghubung manusia dengan sang Brahman yang menjadi sumber kebahagiaan.

Namun ketika modernitas berjalan, seks pun berubah dengan perilaku yang berbeda. intinya bahwa seks adalah aktivitas, namun modernitas memaksa untuk di-digitalkan. Fenomena ini tampak dalam pendalaman yang disampaikan oleh Prof Yasraf Amir pilliang dengan tema ‘’Digitalisasi seks”.
Bahwa seks adalah aktivitas, tindak dan hubungan yang tak hanya melibatkan dimensi fisikbiologis-kimiawi, akan tetapi juga psikis, sosial, kultural dan spiritual. Seks adalah aktivitas multidimensi, dengan relasi-relasi kompleks dan dinamis. Dalam kompleksitas inilah, seks selalu hadir dalam bentuk-bentuk yang paradoks dan kontradiktif. Seks secara fisik-biologis adalah kondisi ‘menyatunya’ tubuh dua insan sebagai pasangan, akan tetapi secara psikis seks memisahkan, karena kedua individu ingin mencari kepuasaan masing-masing, dengan memanfaatkan pasangannya. Paradoks seks adalah, bahwa seks adalah tindak egoistik dalam kebersamaan, tindak mencapai kepuasan individu dalam kemenyatuan tubuh.

Seks bersifat menyatukan, mendekatkan, dan mengakrabkan pasangan, akan tetapi sekaligus memisahkan, menjauhkan dan menjarakkan dengan orang-orang lain. Seks menanggalkan batas-batas (dinding, kamar, rumah, rasa malu) di antara pasangan, tetapi membangun tirai-tirai sosial. Dalam bingkai digitalisisasi, seks menyatukan, tetap menyatukan dalam “keberjarakan”; seks menciptakan keintiman, tetapi “keintiman dalam keberjauhan”. Seks adalah sebuah paradoks, karena ia adalah bentuk keintiman sekaligus keberjarakan, kebersatuan sekaligus keterpisahan. Dua tubuh memang bersatu dalam sebuah hubungan intim , tetapi masing-masing diri menggunakan tubuh pasangannya untuk mendapatkan kepuasaannya dirinya sendiri, semacam egoisme seksual.

Seks dalam bentuk digital adalah seks dalam kontradiksi. Digitalisasi seks membentangkan cara, bentuk, teknik, model, relasi, pengalaman, nilai dan makna-makna baru seks; akan tetapi, ia sekaligus menutup , bentuk, teknik, model, relasi, pengalaman, nilai dan makna-makna yang sebelumnya. Dalam hal ini, “teknologisasi seks”— khususnya dalam bentuk digitalisasi seks—adalah sebuah alētheia, sebuah cara membuka sebuah kemungkinan “dunia seks” yang baru, akan tetapi sekaligus menutup dunia seks yang sebelumnya. Digitalisasi seks tak hanya mengenalkan ‘tubuh’ yang baru—yaitu tubuh digital atau virtual, dengan ‘kulit baru’ berupa lapisan teknologi pada tubuh—akan tetapi menutup lembaran tubuh yang lama, yaitu tubuh fisik-biologis.
Aquirini Priyatna memberikan pendalaman mengenai ‘’Ideologisasi Seks’’. Mengutip, Lottes, ‘’ ideologi seksual adalah keyakinan yang koheren berkenaan dengan perilaku seksual, yang dianggap layak, diterima, diinginkan dan terberi’’. Bersanding ke Reiss yang membagi ideologi seks kedalam tiga kompetisi (kompeting). Pertama, ideologi romantik tradisional, lebih menekankan pada ketertundukkan dan inferioritas seksual perempuan. Kedua, ideologi naturalistik modern, upaya merangkul kesetaraan gender dan menghargai berbagai ekspresi baik laki-laki maupun perempuan. Ketiga, abstinence, menolak segala bentuk permissivitas pada laki-laki maupun perempuan.

Sementara dalam wacana fakta sosial, seksualitas sebagai suatu bentuk pengalaman yang bersifat historis, “yang dibangun melalui tiga sumber : pengetahuan, serangkaian aturan yang menyebutkan secara spesifik yang mana tidak boleh dan boleh dilakukan, dan modus relasi diri yang membentuk suatu individual menjadi ‘’subjek seksual’’. Dalam konteks itu maka seorang Beauvoir merumuskan, ‘’man is human being with sexuality; woman is a complete individual, equal to the male, only if she too is a human being with sexuality. To renounce her femininity is to renounce a part of her humanity’’.

Sama halnya dalam urusan makan-minum bukan hanya untuk memenuhi lapar dan haus, tapi ada kebersamaan yang terjalin, ada idealisme yang akan muncul, juga terciptanya imajinasi kreatif, juga merangsang nalar untuk berpikir. Bahwa sopan santun di meja makan, sebagai citra keorangan yang terdidik, tak dapat tiada, merupakan idealitas sebuah zaman yang normal. Artinya, hanya dalam keadaan normal manusia bisa mengurus segala gagasan sampai tindakan yang membangun harkat peradabannya. Sebab, dalam keadaan tidak normal manusia hanyalah hewan bercelana yang karuan memerankan cerita Charles Darwin, demikian kata Remy Sylado yang juga berbicara dalam kesempatan yang sama dengan tema,’’Are You What You Eat?”.
Pada penutupnya, Prof Bambang Sugiharto kembali menggambarkan mengenai tema,’’Percakapan, Suasana dan Ngopi”. Dalam kehidupan urban ada tiga ruang. Pertama, ruang privat, dimana adanya tuntutan survival namun tanpa jaminan. Lingkup dimana adanya dunia kerja impersonal yang mengarah pada tendensi narsistik. Kedua, ruang publik, dimana adanya godaan pesona tanpa akhir, namun penuh bujukkan. Ruang terjadinya disintegrasi komunitas yang mengarah pada kultur sharing maya. Ketiga, cafe culture (third space), ini adalah ruang dimana kesukaan tidak memiliki daya ikat. Dunia yang tidak pasti tapi mengasyikkan. Karena disinilah penyatuan antara modern urban dengan heterogenitasnya.

Pada akhirnya, modernitas menuntut penalaran rasional dalam segala bentuk dan pola kehidupan. Itulah ciri khas kehidupan kaum urban. Ia bebas namun penuh ketidakpastian. Di saat yang sama yang tak pasti tersebut malah mengasyikkan. Dan kesempatan yang sama kita dipaksa untuk melatih dan bahkan membiasakan dengan ketidakpastian itu. Cafe culture sebagai ruang ketiga menawarkan suasana untuk mempercakapkan berbagai macam peristiwa hidup, berbicara mengenai permenungan mendalam atas hidup.
Bersanding ke J Pieper bahwa, ’’waktu senggang adalah waktu lahirnya sumber kebudayaan’’. Heidegger sedikit berbeda menanggapi ketidakpastian diatas dengan mengatakan, ’’ngobrol omong kosong adalah orang yang tidak butuh dengan dirinya sendiri’’.


Era modern urban identik dengan yang tidak pasti. Dunia yang tak terprediksi. Perubahan menjalar dengan gesit. Fesyen, seks dan kuliner adalah penanda identitas kehidupan kaum urban. Maka cafe culture adalah saat dimana orang sedang menunggu hari ketika matahari sedang mengusut perlahan-lahan dalam kedesahan datangnya senja. Saat itulah godaan imajinasi kita dirangsang untuk memikirkan sesuatu, tapi sangat misterius. Karena ketidakpastian itu asyik, mungkin dengan sesuatu yang misterius juga, disaat yang sama justru kebudayaan perlahan pula dibentuk olehnya.

Oleh : Marz Wera

Tidak ada komentar: