Jumat, 27 Maret 2015

Surat Cinta Untuk Para Pejuang


Salam mahasiswa untuk para kakanda-kakanda seperjuangan, yang sampai saat ini masih aktif gegap gempita menyuarakan aspirasi dan kritisi kepada para pemimpin negeri ini demi perubahan yang sesuai dengan harapan dan yang kita cita-citakan bersama.
Sebagai Mahasiswa yang aktif mengikuti dinamika politik di negeri ini saya begitu bangga kepada kakanda sekalian dimana selalu bersatu padu menyuarakan aspirasi yang menurut kita belum sesuai dengan yang kita harapkan yaitu kesejahteraan, keadilan, hingga kepastian hukum yang seharusnya berlaku dan ditegakkan di negeri yang kita cintai ini. Namun, ketika melihat beberapa pergerakan kakanda sekalian baik mengkritisi si pemangku kekuasaan maupun aksi dukungan secara terbuka, saya merasa miris jika aspirasi yang kita keluarkan itu harus lewat orasi atau turun ke jalan baru bisa di simpulkan kita sudah peduli dengan keadaan yang dialami bangsa ini, hal ini tentunya lebih mirip seperti anak kecil yang menangis di malam hari yang tidak tahu harus bagaimana caranya supaya orangtuanya mengetahui dia sedang terbangun. Tahun 1998 mungkin menjadi tahun sejarah ke-emasan bagi para aktifis khususnya para pemuda/i (Mahasiswa/i) pada saat itu, namun tahun itu telah berlalu sekian lama namun bukan berarti perjuangan menjadi usai. Zaman sudah semakin modern seharusnya cara penyampaian aspirasi juga harus mengalami modernisasi, turun ke jalan mungkin lebih cocok ditahun 98 namun ini sudah 2015 kakanda sekalian. Saya sangat setuju bahwa beberapa kebijakan pemangku kekuasaan kurang menyenangkan bagi kita atau seakan-akan kebijakan itu lebih berpihak kepada mereka yang sedang bersinggasana di tahta kekuasaan atau mereka yang memiliki kekuatan perekonomian yang kuat.


Namun sebagai agen perubahan dan pelaksana Tri Dharma Perguruan Tinggi seharusnya sebelum turun ke jalan kita perlu merefleksikan secara bersama-sama apa dan harus bagaimana cara atau sistem yang harus kita lakukan sehingga Tri Dharma Perguruan Tinggi ini menjadi terwujud. Coba kita berkaca dalam Pemerintahan Jokowi-JK saat ini, begitu banyak badai menerjang yang mencoba menggoyangkan pokok kekuasaan itu, kita secara jelas mengetahui bahwa di Internal pemerintahan saja dukungan untuk pemerintahan ini begitu minim bahkan pihak penyeimbang (Katanya) lebih mayoritas menduduki Internal Pemerintahan. Ketika suatu kebijakan baru di canangkan akan langsung dilahap habis oleh pihak penyeimbang, lalu bagaimana bisa kebijakan itu sampai kepada masyarakat kita ? Pro dan Kontra mungkin hal biasa namun jika hal itu berkepanjangan tanpa solusi yang bisa diterima kedua belah pihak sampai kapan masyarakat menunggu ?. Negeri kita begitu amat besar dan permasalahan yang dihadapi juga begitu kompleks, untuk menyelesaikan permasalahan ini butuh waktu dan pemikiran yang baik. Jika kita terus mengkritisi kapan Pemerintahan ini berjalan, kapan kebijakan itu diterapkan di masyarakat? Seharusnya sebagai Mahasiswa kita menjadi jembatan antara pemerintah dengan masyarakat. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi tertulis tiga poin penting yang seharusnya menjadi landasan pergerakan kita yaitu: Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian kepada Masyarakat. 
Saya mencoba memahami dalam refleksi saya dalam poin pertama yaitu  Pendidikan, sebagai Mahasiswa tentunya poin ini tidak mungkin di ragukan lagi dari para kakanda sekalian saya yakin dan percaya kakanda sekalian memiliki Intelektual yang baik apalagi kakanda sekalian dinaungi oleh wadah Perguruan Tinggi yang begitu tersohor di negeri ini. Lalu kita merujuk ke poin yang kedua yaitu Penelitian dan Pengembangan, dalam refleksi saya secara pribadi di dalam poin ini terkandung makna bahwa Ilmu yang kita (Mahasiswa) peroleh melalaui proses pendidikan di Perguruan Tinggi seharus nya dapat diimplementasikan dan diterapkan dalam kehidupan sekitar kita, salah satunya dengan langkah ilmiah seperti melalui proses penelitian kepada masyarakat. Penelitian kita bukan hanya akan mengembangkan diri kita sendiri, namun juga memberikan manfaat bagi kemajuan peradaban dan kepentingan bangsa kita dalam mensejahterakan masyarakat Indonesia secara terkhusus. Menjadi pertanyaannya adalah sudahkah kita melakukan penelitian yang di maksud dalam poin kedua ini? atau jangan-jangan kita tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini, sehingga pada saat kita diminta untuk memberikan beberapa pilihan untuk dijadikan solusi kita hanya diam karena kurangnya data yang kita miliki, jangan karena terbawa arus kita menjadi ikut-ikutan turun kejalan menyuarakan aspirasi yang tidak berdasar itu.
 Lalu pada poin yang ketiga yaitu Pengabdian kepada Masyarakat, dalam refleksi saya pada poin ketiga ini terkandung makna yang begitu mulia dimana kita sebagai Mahasiswa dituntut untuk peka melihat kondisi masyarakat di sekitar kita dan kita seharusnya lebih tahu akan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat secara kita adalah wadah yang paling dekat dengan masyarakat dan memahami secara jelas kondisi masyarakat tersebut. Saya merasa kita memiliki kewajiban menjadi tokoh utama dalam masyarakat dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah terhadap rakyat karena sebagaian besar keputusan pemerintah di masa ini sudah terkontaminasi oleh berbagai kepentingan politik tertentu dan kita sebagai mahasiswa yang memiliki mata yang masih bening tanpa ternodai kepentingan-kepentingan serupa mampu melihat secara jernih, melihat yang terdalam dari yang terdalam terhadap intrik politik yang tidak jarang mengeksploitasi kepentingan rakyat. Disini kita dituntut secara nyata untuk berperan membela kepentingan masyarakat, tentu tidak dengan jalan kekerasan dan anarkis. Namun menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan, kaji terlebih dahulu, pahami, lalu sosialisasikan pada masyarakat. Jika ketiga poin ini sudah kita refleksikan secara bersama-sama saya yakin aspirasi kita akan didengar sehingga pemangku kekuasaan menjadi sadar bahwa masih banyak orang muda Indonesia yang peduli akan perubahan yang lebih baik lagi di Negeri ini.
Salam perjuangan

Tidak ada komentar: