Jumat, 27 Maret 2015

Kesejahteraan Kami di Pertaruhkan



Saya begitu tertarik dengan salah satu komentar yang bernama Padamupertiwi di salah satu artikel Kompas.com “PAN Sudah Tak Sejalan dengan KMP? Ini Jawaban Zulkifli “ kira-kira komentarnya seperti berikut ini: “ saya sbg rakyat akan mendukung jika DPR membuat angket untuk kasus : Dana talangan Lapindo, Century, BLBI, Pengelapan Pajak Asean AGRI, Pengelapan Pajak BCA, dan kasus pajak lainnya !! jgn untuk urusan Golkar/PPP buat apa ??? emang rakyat peduli sama Ical/Agung? Tidak sama sekali “ 

saya rasa teman kita ini (Padamupertiwi) sudah muak dengan kelakuan para politisi di Indonesia saat ini, dimana para politisi ini seakan-akan sedang mementaskan sebuah peran drama dengan begitu apiknya dan penuh perkembangan namun peran itu sudah terlalu jauh di kembangkan sehingga begitu jauh dari naskah yang telah disiapkan oleh Penulisnya. Betapa tidak, para tokoh politik yang kita saksikan saat ini menampilkan adegan per adegan yang benar-benar memuakkan bangsa ini, sampai membuat kita bertanya-tanya apakah memang politik itu harus seperti ini ? Seandainya para tokoh politik ini benar-benar merupakan seorang Aktor yang sedang ditayangkan di Televisi mungkin saya akan secepatnya mematikan Televisi supaya tidak saya saksikan lagi sehingga tidak menggodok perasaan amarah di dalam hati ini dan mengembalikan praktek politik itu sebagaimana mestinya. Jika kita melihat kembali catatan sejarah per politikan di Indonesia seandainya praktek politik seperti saat ini dilakukan oleh Soekarno, Moh.Hatta, Soepomo, Tan malaka,atau Moh.Yamin mungkin bangsa kita tidak akan semaju seperti saat ini, namun jika begini terus maka bangsa yang kita cintai ini akan tetap seperti ini tanpa adanya kemajuan. Sampai kapan hal ini kami alami Bapak/Ibu sekalian ? Sebagai Mahasiswa dan pemuda Indonesia saya pastinya tidak mau seba’gai penikmat sejarah maupun sebagai penonton sejarah saja saya ingin menjadi pelaku sejarah, namun bagaimana mungkin hal itu terjadi jika para pemimpin kami seperti ini. 

Saya masih ingat sebuah istilah mengatakan “ Buah tak akan jauh jatuh dari pohonnya “ jika istilah ini kita pahami berarti 20-30 tahun ke depan para tokoh politik yang akan menggantikan para tokoh politik saat ini tidak akan jauh berbeda situasi yang di alami bangsa ini sehingga yang menjadi korban adalah rakyat Indonesia dimana tidak akan pernah mengalami kemajuan. Coba kita telusuri secara saksama kelakuan para politisi,pejabat pemerintah dan wakil-wakil kita di DPR/DPRD sana, mereka berlomba-lomba saling sikut menyikut seakan-akan sedang ingin membuktikan siapa yang paling kuat dan berpengaruh di Negeri ini. Mereka tidak merasa malu dan takut bahwa rakyat akan marah atau jangan-jangan mereka berfikir “ ahh sudahlah….toh pada saat pemilihan nanti saya akan terpilih lagi jika uang ini kubagikan” sadar lah Bapak/Ibu sekalian rakyat sudah pintar, rakyat sudah belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya cukup di periode ini kami kecolongan. Atau haruskah kami menunggu sampai periode ini berakhir? Haruskah kami memberikan tepuk tangan ketika kalian saling sikut menyikut? Haruskah kami merobohkan kursi kekuasaan Bapak/Ibu sekalian? Sehingga Bapak/Ibu tersadar bahwa praktek politik yang kalian terapkan telah keliru dan tidak meningkatkan kesejahteraan kami sebagai rakyat kecil. Namun kami tetap yakin dan percaya suatu hari nanti Bapak/Ibu pemangku kekuasaan saat ini akan sadar sehingga memberikan kesejahteraan yang tiada tara kepada kami rakyatmu.


Santo Than Situmorang

Tidak ada komentar: