TUGAS
1
PENDIDIKAN
AGAMA KATOLIK
NAMA
: SANTO ISI DORUS
SITUMORANG
| Sharing Pengalaman Iman Dalam Keluarga. | |
Pengalaman
iman dalam keluarga yang menyentuh buat saya adalah pada saat saya masih kecil
yaitu pada usia 7 Tahun dimana pada saat itu Keluarga saya harus merelakan
Putera sulung Keluarga saya untuk masuk ke Seminari menjadi seorang Biarawan (
Pastor ) pada saat itu saya tidak begitu mengerti apa yang dirasakan Keluarga
saya, yang saya tahu Abang tertua saya adalah melanjutkan sekolahnya ke luar
kota. Namun setelah beranjak usia 15 Tahun akhirnya saya mengerti dan memahami
apa yang dirasakan keluarga saya 8 tahun yang silam terkhususnya buat ibu dan
ayah saya yang harus menerima olokan/ejekan ( lebih mengarah ke sifat Hinaan )
karena buat suku Batak Putera sulung itu wajib hukumnya menikah, padahal Abang
maupun Keluarga saya sangat setuju dengan masuknya Abang saya ini ke Seminari
hanya saja keluarga jauh dan tetangga disekitar rumah menganggapnya sebuah
kebodohan yang dilakukan suatu keluarga yang tidak seharusnya dilakukan. Namun
karena kemauan tersendiri dari Abang saya membuat orangtua saya semakin yakin
untuk merelakan Abang saya ini masuk ke seminari ditambah dukungan dari Pastor
Paroki yang ada di daerah saya. Lalu pada tahun 2006 Kakak kedua saya menyusul
masuk Biarawati menjadi seorang suster dari Kongregasi Suster Fransiskus Dina (
SFD).
Setelah
Abang saya menjadi Imam ( Pastor ) pada tahun 2009 yang lalu segenap keluarga
saya sangat berbahagia pada saat itu karena lahir seorang gembala umat katolik
yang baru dari keluarga besar saya. Kami mengadakan syukuran keluarga yang
benar-benar menggembirakan pada saat itu seluru sanak saudara diundang untuk
ikut bergembira bersama keluarga besar saya. Setelah pesta berlalu suatu
kesedihan muncul ditengah keluarga saya dimana Ibu saya sakit keras padahal
keluarga saya pada saat itu tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai
biaya perobatan ibu saya namun berkat kuasa dan cinta Tuhan Yang Maha Esa
keluarga saya ditolong lewat bantuan dari Pastoran yang menjadi kongregasi
Abang saya yakni Kongregasi Kapusin Sibolga segala kekurangan biaya perobatan
ditanggung oleh kongregasi. Namun apa daya setelah 1 tahun menjalani pengobatan
Ibu saya harus kami relakan untuk berpulang ke Rumah Bapa Surgawi, ini
merupakan momen dimana keluarga saya harus sabar dan tabah menjalaninya sebagai
keluarga katolik yang mengerti akan nilai-nilai kekatolikan. Secara kasat mata
mungkin ini merupakan bencana yang sangat besar yang pernah terjadi dan harus
kami lalui secara bersama-sama, namun secara garis besar yang saya lihat Abang
saya yang menjadi Pastor dan Kakak kedua saya yang menjadi Suster tampak
berbahagia diamana mereka sadar bahwa kematian merupakan awal kehidupan surgawi
dan semua manusia pada akhirnya juga akan mengalami hal seperti ini. Namun saya
yakin betul di hati mereka yang paling dalam juga pasti ada kesedihan mendalam
yang mengalir layaknya manusia biasa. Ada satu hal yang menjadi menarik dari
kejadian ini baru pertama kalinya saya melihat dan menyaksikan acara pemakaman
yang seharusnya menjadi duka menjadi suka dimana keluarga saya diberi kekuatan
besar dari kalangan biarawan-biarawati dan juga para pemuka agama dan begitu
bayak umat katolik yang merasa kehilangan sosok seorang ibu seperti yang kami
rasakan.pada saat itu saya semakin sadar dan memahami betapa indah dan kuatnya
Fraternitas di keluarga besar umat Katolik.
Setelah
peristiwa itu berlalu berbekal pengalaman dan yang saya rasakan di keluarga
saya,ketika lulus SMA saya memantapkan niat masuk biarawan menjadi seorang
Bruder kongregasi Budi Mulia. Saya yakin jika masuk biarawan maka hidup saya
akan menjadi lebih bermakna dan penuh kedamaian dan membaktikan seluruh hidup
saya untuk masyarakat khususnya umat katolik. Awalnya saya merasakan seperti apa
yang saya harapkan sebelum masuk bruder dimana penuh kebahagiaan dan kedamaian
namun setelah 1 tahun berlalu saya harus menyaksikan dan menjadi saksi di suatu
perkara antara Pimpinan Komunitas dengan jajaran komunitas lainnya dimana
mereka harus mempertahankan keegoan masing-masing dalam memutuskan sebuah keputusan.
Lalu semakin hari selalu ada saja kejadian yang membuat saya menjadi tidak
nyaman dan kerasan didalam kehidupan membiara akhirnya dibulan 2 tahun 2013
saya keluar dari Biara dengan segala resiko yang sudah bulat pasti akan saya
tempuh bagaimanapun akhirnya nanti. Lalu saya melanjutkan perkuliahan saya ke
Universitas Katolik Parahyangan berbekal arahan dari kakak saya yang kuliah di
Universitas Sebelas April Sumedang supaya langsung melanjutkan pendidikan lewat
kuliah S1 sebagai bekal dimasa Tua dan anak istri saya nantinya,namun segala
pengalaman yang sudah saya lalui akan menjadi pengalaman terindah yang paling
mengharukan buat saya secara pribadi.
Alasan saya mengapa
pengalaman Iman ini yang saya sharingkan,hal ini dikarenakan tidak semua
keluarga atau pribadi akan mengalami seperti halnya yang sudah saya alami
ini,dan semoga dengan sharing yang saya tulis ini membuat para pendengar atau
pembaca menjadi mengerti walau sedikit tentang kehidupan keluarga katolik yang
bagian keluarganya banyak berkecimpung untuk menjadi gembala di ladang Tuhan
selain ditambah Nilai tugas Pendidikan Agama Katolik saya terpenuhi dengan baik
menurut saya. Demikian sharing Iman yang bisa saya sharingkan semoga bermanfaat
buat kita semua. Tuhan Memberkati…..!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar