Selasa, 17 Februari 2015

Pengalaman iman dalam keluarga

TUGAS 1
PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
( PENGALAMAN IMAN DALAM KELUARGA)


NAMA       : SANTO ISI DORUS SITUMORANG

Sharing Pengalaman Iman Dalam Keluarga.




Pengalaman iman dalam keluarga yang menyentuh buat saya adalah pada saat saya masih kecil yaitu pada usia 7 Tahun dimana pada saat itu Keluarga saya harus merelakan Putera sulung Keluarga saya untuk masuk ke Seminari menjadi seorang Biarawan ( Pastor ) pada saat itu saya tidak begitu mengerti apa yang dirasakan Keluarga saya, yang saya tahu Abang tertua saya adalah melanjutkan sekolahnya ke luar kota. Namun setelah beranjak usia 15 Tahun akhirnya saya mengerti dan memahami apa yang dirasakan keluarga saya 8 tahun yang silam terkhususnya buat ibu dan ayah saya yang harus menerima olokan/ejekan ( lebih mengarah ke sifat Hinaan ) karena buat suku Batak Putera sulung itu wajib hukumnya menikah, padahal Abang maupun Keluarga saya sangat setuju dengan masuknya Abang saya ini ke Seminari hanya saja keluarga jauh dan tetangga disekitar rumah menganggapnya sebuah kebodohan yang dilakukan suatu keluarga yang tidak seharusnya dilakukan. Namun karena kemauan tersendiri dari Abang saya membuat orangtua saya semakin yakin untuk merelakan Abang saya ini masuk ke seminari ditambah dukungan dari Pastor Paroki yang ada di daerah saya. Lalu pada tahun 2006 Kakak kedua saya menyusul masuk Biarawati menjadi seorang suster dari Kongregasi Suster Fransiskus Dina ( SFD).
Setelah Abang saya menjadi Imam ( Pastor ) pada tahun 2009 yang lalu segenap keluarga saya sangat berbahagia pada saat itu karena lahir seorang gembala umat katolik yang baru dari keluarga besar saya. Kami mengadakan syukuran keluarga yang benar-benar menggembirakan pada saat itu seluru sanak saudara diundang untuk ikut bergembira bersama keluarga besar saya. Setelah pesta berlalu suatu kesedihan muncul ditengah keluarga saya dimana Ibu saya sakit keras padahal keluarga saya pada saat itu tidak memiliki dana yang cukup untuk membiayai biaya perobatan ibu saya namun berkat kuasa dan cinta Tuhan Yang Maha Esa keluarga saya ditolong lewat bantuan dari Pastoran yang menjadi kongregasi Abang saya yakni Kongregasi Kapusin Sibolga segala kekurangan biaya perobatan ditanggung oleh kongregasi. Namun apa daya setelah 1 tahun menjalani pengobatan Ibu saya harus kami relakan untuk berpulang ke Rumah Bapa Surgawi, ini merupakan momen dimana keluarga saya harus sabar dan tabah menjalaninya sebagai keluarga katolik yang mengerti akan nilai-nilai kekatolikan. Secara kasat mata mungkin ini merupakan bencana yang sangat besar yang pernah terjadi dan harus kami lalui secara bersama-sama, namun secara garis besar yang saya lihat Abang saya yang menjadi Pastor dan Kakak kedua saya yang menjadi Suster tampak berbahagia diamana mereka sadar bahwa kematian merupakan awal kehidupan surgawi dan semua manusia pada akhirnya juga akan mengalami hal seperti ini. Namun saya yakin betul di hati mereka yang paling dalam juga pasti ada kesedihan mendalam yang mengalir layaknya manusia biasa. Ada satu hal yang menjadi menarik dari kejadian ini baru pertama kalinya saya melihat dan menyaksikan acara pemakaman yang seharusnya menjadi duka menjadi suka dimana keluarga saya diberi kekuatan besar dari kalangan biarawan-biarawati dan juga para pemuka agama dan begitu bayak umat katolik yang merasa kehilangan sosok seorang ibu seperti yang kami rasakan.pada saat itu saya semakin sadar dan memahami betapa indah dan kuatnya Fraternitas di keluarga besar umat Katolik.
Setelah peristiwa itu berlalu berbekal pengalaman dan yang saya rasakan di keluarga saya,ketika lulus SMA saya memantapkan niat masuk biarawan menjadi seorang Bruder kongregasi Budi Mulia. Saya yakin jika masuk biarawan maka hidup saya akan menjadi lebih bermakna dan penuh kedamaian dan membaktikan seluruh hidup saya untuk masyarakat khususnya umat katolik. Awalnya saya merasakan seperti apa yang saya harapkan sebelum masuk bruder dimana penuh kebahagiaan dan kedamaian namun setelah 1 tahun berlalu saya harus menyaksikan dan menjadi saksi di suatu perkara antara Pimpinan Komunitas dengan jajaran komunitas lainnya dimana mereka harus mempertahankan keegoan masing-masing dalam memutuskan sebuah keputusan. Lalu semakin hari selalu ada saja kejadian yang membuat saya menjadi tidak nyaman dan kerasan didalam kehidupan membiara akhirnya dibulan 2 tahun 2013 saya keluar dari Biara dengan segala resiko yang sudah bulat pasti akan saya tempuh bagaimanapun akhirnya nanti. Lalu saya melanjutkan perkuliahan saya ke Universitas Katolik Parahyangan berbekal arahan dari kakak saya yang kuliah di Universitas Sebelas April Sumedang supaya langsung melanjutkan pendidikan lewat kuliah S1 sebagai bekal dimasa Tua dan anak istri saya nantinya,namun segala pengalaman yang sudah saya lalui akan menjadi pengalaman terindah yang paling mengharukan buat saya secara pribadi.

Alasan saya mengapa pengalaman Iman ini yang saya sharingkan,hal ini dikarenakan tidak semua keluarga atau pribadi akan mengalami seperti halnya yang sudah saya alami ini,dan semoga dengan sharing yang saya tulis ini membuat para pendengar atau pembaca menjadi mengerti walau sedikit tentang kehidupan keluarga katolik yang bagian keluarganya banyak berkecimpung untuk menjadi gembala di ladang Tuhan selain ditambah Nilai tugas Pendidikan Agama Katolik saya terpenuhi dengan baik menurut saya. Demikian sharing Iman yang bisa saya sharingkan semoga bermanfaat buat kita semua. Tuhan Memberkati…..!

Tidak ada komentar: